Tampilkan postingan dengan label Sejarah Amerika Latin. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sejarah Amerika Latin. Tampilkan semua postingan

Jumat, Juni 14, 2019

Masalah Sosial Orang Kulit Kuning Di Amerika.?


1.      Masalah Sosial Orang Kulit Kuning
a)      Orang Cina
Menjelang tahun 1930, lebih lebih dari delapan juta orang Cina telah meninggalkan negeri Cina untuk menetap diseluruh dunia. Orang Cina sendiri pertama datang ke Amerika pada sekitar tahun 1848, dimana saat itu terjadi gold rush di California. Orang Cina datang ke Amerika Serikat sebagai buruh kontrak / dengan uang yang dipinjam dari organisasi Amerika-Cina yang jadi pembimbing mereka di Amerika Serikat. Kebanyakan dari para imigran Cina itu dikenal sebagai pekerja keras, khususnya di bidang pertanian, pembuatan rel kereta api Central Pasific yang melewati California dan Pegunungan Sierra menuju Utah, dan pekerjaan-pekerjaan kasar lainnya yang tidak mau dikerjakan orang kulit putih.
Di West Coast, para penambang datang dengan harapan dapat memperbaiki kehidupan mereka. Sedangkan di Hawaii, mereka menanam beras dan gula sambil menunggu kesempatan kerja di bidang pertambangan. Orang-orang Cina yang datang di Amerika bekerja apa saja dan sangat ulet. Sebagian mereka bekerja di pertambangan emas dan mineral yang lainnya. Sebagian lagi membangun jalan kereta api yang rampung pada tahun 1869 dan sisanya bekerja di ladang, mengembang biakkan anggrek, dan anggur. Ketika sistem perairan telah dibangun, maka mereka juga mengembangkan industri perikanan.
Hal ini menimbulkan penolakan, pembantaian politik, dan kekerasan sporadis. Keterampilan dan kemampuan berorganisasi orang Cina membuat mereka banyak membantu dinegara miskin, meskipun kekeayaan merreka membuat orang Cina menjadi sasaran politik. Akibatnya, pemerintah negara-negara seperti itu banyak yang menunjukkan sikap ambivalen terhadap mereka. Berbagai negara Amerika ada yang membatasi, tetapi ada juga yang mendorong imigrasi orang Cina.
Orang Cina yang bermigrasi ke Amerika Serikat sebelum Perang Dunia II hampir seluruhnya berasal dari satu Provonsi Kwantung, di Cina Selatan. Daerah asal mereka memang lebih terbatas, hanya berasal dari salah satu dari tujuh distrik di Provinsi tersebut, Toishan. Imigran Cina yang datang ke Amerika Serikat sesudah perang Dunia II sudah khas berbahasa Cina Mandarin menciptakan suatu pembatas bahasa diantara mereka sendiri dan orang Amerika Cina yang sudah ada.

Banyak orang Cina datang ke Amerika Serikat sebagai buruh kontrak atau dengan uang yang dipinjam dari organisasi-organisasi Amerika-Cina yang melakukan peran pembimbing bagi mereka di Amerika Serikat. Imigran Cina tidak mengenal bahasa dan kebudayaan Amerika Serikat, buruh Cina sering bekerja dalam kelompok dibawah bimbingan seseorang sesama bangsanya. Walaupun fisiknya lebih kecil dibanding orang Amerika, orang Cina adalah pekerja keras dibidang pertanian, pembuatan jalan kereta api, dan kerja fisik berat lainya. Mereka juga tenaga murah dan hidup sangat sederhana, menabung dari jumlah penghasilan yang oleh orang Amerika dianggap sangat sedikit. Namun sifat baik ini justru ditakuti dan dibenci sebagai saingan oleh buruh kulit putih.
Imigran Cina yang datang ke Amerika Serikat tidak disambut dengan baik dan sering dengan kekerasan. mereka tampak lain, makan dengan cara lain, dan mempunya kebiasaan yang sama sekali tidak dikenal oleh orang Amerika. Mereka dianggap tidak mampu berasimilasi, baik secara biologis maupun kultural. Sebagai saingan, mereka ditakuti karena bekerja lebih keras dan lebih lama dengan gaji sedikit sehingga dapat menurunkan standar hidup buruh. Serikat buruh selama banyak dasawarsa berupaya keras untik mengucilkan imigran Cina dan menghalangi orang Cina bermukim di Amerika Serikat.
Pemerintah Amerika mengeluarkan Chinese Exclusion Act tahun 1882:
1)      Mengurangi jumlah imigran Cina yang masuk ke Amerika.
2)      Menghalangi mereka mendapat naturalisasi menjadi warga negara Amerika Serikat yang berakibat mereka tidak bisa memiliki tanah dan masuk pekerjaan.
Pelarangan adanya migrasi dari Cina berubah setelah penyerangan Pearl Harbour oleh Jepang pada Desember 1941. Pada tahun 1943 Chinese Exclusion Act dicabut setelah Amerika Serikat dan Cina bersekutu menghadapi Jepang dalam Perang Dunia II.
Cina dan Amerika Serikat membentuk aliansi melawan Jepang. Sehingga, saat perang masih berlangsung yaitu 1943, Chinese Exclusion Act direvisi dan untuk pertama warga Cina diberikan hak untuk menjadi warga negara Amerika. The Immigration and Nationality Act yang dibuat pada tahun 1965 kemudian dijadikan hukum negara oleh Presiden Lyndon Johnson yang membiarkan peningkatan jumlah imigrasi dari Asia.
Pada tahun 1885, buruh Cina yang bertindak sebagai pencetus pemogokan dibantai disuatu tambang batubara di Wiyoming. Mereka melakukan pemogokan karena yang terbuka bagi mereka hanyalah pekerjaan paling kasar, paling kotor, dan paling rendah. Kebanyak buruh membangun Jalan Kerata Api Central Pasific yang melewati California dan pegunungan Sierra memasuki Utah untuk mengangkut bijih emas. Orang Cina yang berusaha bekerja sebagai menambang emas secara bebas, dengan paksa diusir oleh orang kulit putih dari seluruh perkemahan pertambangan di Barat. Pada tahun 1885, penduduk Cina dalam satu komunitas California dipaksa pergia karena ancaman pengeroyokan massa. Sekitar waktu yang sama,Seattle dan Tacoma. Washington, mengusir penduduknya yang keturunan Cina. Kejadian serupa juga terjadi di Vancouver dan Alaska.
Orang kulit putih di Amerika Serikat senang melakukan gangguan yang disengaja seperti mengolok-olok dan memotong kuncir panjang yang dimiliki orang Cina, menggiring imigran Cina sambil diejek, dipukuli, dilempari batu dan di lempari buah  busuk dalam suasana riuh sperti kalangan orang Irlandia yang sedang mabok. Orang kulit putih juga membakar dan memporakporandakan, membunuh penduduknya sambil lewat, menembak, dan menggantung paling sedikit sekitar 20 orang Cina dalam semalam.
Menghadapi diskriminasi  yang menimpa orang Cina ini, mereka lebih suka mengundurkan diri atau berusaha agar tidak menarik perhatian orang lain. Semua orang Cina memilih pemimpin untuk menyelesaikan persoalan intern mereka sendiri dengan sedikit mungkin meminta bantuan lembaga dari masyarakat yang lebih besar disekeliling mereka. Di Amerika Serikat, para pemimin Cina sengaja menghindari pengadilan dan arena politik. Hal ini karena keturunan Cina di Amerika hidup dalam komunitas penduduk yang sangat erat hubunganya satu sama lain sebab berasal dari satu distrik dari satu provinsi di Cina. Dalam wilayah-wilayah tertutup ini, mereka tetap hidup dan merupakan suatu kebudayaan yang utuh, serangkaian tradisi dan nilai, yang berpangkal di negeri Cina sendiri.
Organisasi rahasia atau tong muncul di komunitas orang Cina di Amerika Serikat. Organisasi Tong membagi wilayah khusus untuk pelacuran, perjudian, dan pemakaian opium yang merupakan kegiatan lazim dikalangan kaum pria yang tidak punya rumah dan hidupp tanpa wanita. Tong sering melawan dan melakukan pemberontakan secara sporadis.
Pria Cina sering terjebak di Amerika Serikat tanpa punya kesempatan untuk memiliki hidup berkeluarga secara normal, dan mereka tidak mampu karena miskin dan pulang ke negeri asalnya. Beribu-ribu orang Cina di Amerika yang dulu datang ke Amerika dengan tujuan penjajagan ini lalu hidup sebatang kara sebagai penduduk tetap disuatu negara dimana mereka tidak diinginkan.
Dari kalangan orang Cina di Amerika, Klan tetap kuat. Pemimpin klan punya kekuatan sosial sekaligus ekonomi. Seorang pedagang Cina biasanya menjadi pemimpin klanya,membangun asrama disekitar tokonya untuk sesama bangsanya, dan menyediakan bantuan, sarana, hubungan, dan tempat bernaung. Disamping klan, berbagai organisasi saling bantu muncul untuk bertindak sebagai agen pencari kerja, organisasi yang memutarkan kredit, perantara, dan organisasi sosial.
Generasi baru yang terdiri dari atas anak-anak keturunan orang Cina kelahiran Amerika menghadapi banyak kesulitan bahasa seperti anak imigran lainya, dan kadang-kadang memasuki sekolah yang khusus untuk orang Cina. anak-anak orang Cina ini maju dalam pelajaran, baik disekolah yang terdiri atas semua anak cina maupun sekolah campuran dengan kelompok enis lainya. IQ mereka menunjukkan dibawah rata-rata nasional. Guru-guru di New York memberi kesan bahwa anak-anak keturunan Cina “lebih sopan santun, lebih patuh dan lebih dapat berdiri sendiri dibandingkan kawan-kawan sekelas mereka yang kulit putih. Kaum muda Cina kelahiran Amerika secara otomatis lepas dari undang-undang anti Cina yang melarang mereka memasuki berbagai pekerjaan atau memiliki berbagai hak. Generasi orang Amerika-Cina memasuki suatu dunia yang lain dari dunia yang dihadapi oleh orang tua mereka dan punya bekal cukup untuk maju di dunia tersebut.
Awalnya pemerintah mengeluarkan Chinese Exclusion Act tahun 1882. Pemerintah saat itu secara terang terangan menolak imigrasi dari Cina karena banyak keluhan dan protes yang di lancarkan oleh orang kulit putih. Tetapi karena Amerika Serikat sedang menghadapi Jepang dalam Pearl Harbour pada Desember 1941. Maka Cina dan Amerika Serikat membentuk aliansi melawan Jepang. Sehingga, saat perang masih berlangsung yaitu 1943, Chinese Exclusion Act direvisi oleh pemerintah dan untuk pertama kalinya warga Cina diberikan hak untuk menjadi warga negara Amerika. 
Kemudian pada tahun 1965 Presiden Lyndon Johnson membuat “The Immigration and Nationality Act” yang dijadikan sebagai hukum negara yang membiarkan peningkatan jumlah imigrasi dari Asia.
Simpati umum orang Amerika terhadap orang Cina, membantu diterimanya orang Amerika-Cina yang kini dianggap sebagai kelompok yang tertib dan tenang, tinggal dalam suatu komunitas yang bebas masalah, atau paling tidak sebagai suatu kelompok yang masalahnya jarang menarik perhatian masyarakat yang lebih luas.
Kini keturunan orang Amerika-Cina yang dulu bermigrasi dari Provinsi Toishan telah memelihara nilai-nilai Cina dan menambah akulturasi kepada masyarakat Amerika dengan sangat berhasil. Mereka berintegrasi kedalam masyarakat Amerika dalam bidang pekerjaan dan tempat tinggal, meskipun mereka tetap memelihara nilai-nilai dan identitas etnis mereka sendiri.
b)     Orang Jepang
Banyak dari sejarah orang Amerika keturunan Jepang di bentuk oleh sikap, kecurigaan dan diskriminasi terhadap orang Amerika keturunan Cina yang satu generasi lebih dulu datang ke Amerika Serikat. Dalam pikiran masyarakat umum, keduanya tercampur sebagai orang Timur, atau sebagai “Bahaya Kuning”, walupun nyatanya mereka sudah dan tetap merupakan kelompok terpisah dan tersendiri. Emigrasi dari Jepang ke Amerika Serikat dimulai pada akhir abad ke-19, ketika sejarah Jepang sedang mengalami kritis.  Pada 1868, Shogun-shogun dari klan Tokugawa yang sedang berkuasa itu digulingkan, dan tidak hanya diganti oleh sekelompok pemimpin politik baru, tetapi juga oleh serangkaian nilai-nilai dan aspirasi nasional yang baru.
Restorasi Meiji 1868 menandai awal awal Jepang modern, bangkit dari feodalisme dan isolasi sudah berlangsung selama berabad-abad, memasuki industrialisasi modern dan terjun ke dalam perang, pertukaran budaya dan perdagangan internasional. Keterpencilan Jepang terpaksa harus berakhir pada 1854, ketika Laksamana Perry membawa satu armada kapal perang Angkatan Laut Amerika Serikat ke pantai Tokyo dan memaksa pemerintah Jepang menandatangani persetujuan yang lebih membuka negara itu bagi Amerika. Tindakan ini tidak hanya membawa Jepang kepada hubungan dengan gagasan dan teknologi Barat. Orang Jepang pada era itu bermigrasi ke Amerika.
Mula-mula orang Jepang disambut dengan baik di Hawaii sekaligus di Amerika Serikat. Mereka adalah kelompok yang sudah diseleksi terlebih dahulu. Pria muda sehat dengan reputasi baik, cukup ambisius untuk melakukan petualangan beribu-ribu mil dari tanah air mereka. Mereka dijadikan buruh yang sangat baik dalam pekerjaan berat di perkebunan tebu Hawaii. Di daratan Amerika Serikat, Sekitar 40% mulai sebagai buruh tani. Dan sisanya bekerja dalam pembuatan jalan kereta api dan pertambangan, pemotongan kayu, pengalengan, pabrik pengepakan daging dan pekerjaan kasar lainnya. Ada yang menjadi pembantu rumah tangga orang Amerika yang kaya. Dalam semua pekerjaan ini orang Jepang menerima upah rendah, bekerja dalam jam kerja yang panjang, dan kondisi kerja yang sulit, tanpa mengeluh.
Imigran Jepang hebat sekali dalam penghematan, juga dalam industri. Mereka menabung uang sedikit yang mereka terima dari upah yang menurut standar Amerika rendah, tetapi tinggi menurut standar Jepang. Kelebihan-kelebihan yang dimiliki oleh orang Jepang pada akhirnya membuat orang lain memusuhi mereka. Imigran Jepang menjadi pegawai yang bagus sekali, ini membuat mereka ditakuti oleh saingannya dan dibenci oleh buruh Amerika dan persatuan buruh Amerika. Sifat hemat, rajin dan ambisi orang Jepang berarti bahwa makin banyak dari mereka yang maju dari peringkat buruh dan menjadi petani atau pengusaha kecil. Dengan begitu petani dan pengusaha Amerika yang pernah menerima orang Jepang sebagai pegawai, dengan sengit memusuhi mereka sebagai saingan. Dengan meningkatnya orang Jepang di California dari peringkat buruh pertanian menjadi petani penyewa atau menjadi tuan tanah, kebencian terhadap mereka sebagai saingan meluas dari buruh pertanian kulit putih ke petani kulit putih.
Kebencian itu sekarang lebih berpengaruh dengan adanya perundang-undangan dan tindakan anti jepang di California. Yang utama diantaranya adalah undang-undang Tanah Orang Asing (Alien Land Law) 1913 yang melarang orang asing yang tidak memenuhi syarat untuk menjadi warga negara memiliki tanah di California, yaitu orang Asia pada umumnya, dan khususnya orang Jepang. Pada tingkat nasional, California memimpin gerakan politik untuk menghentikan penerimaan orang Jepang di Amerika Serikat.
Di Hawaii, tempat proporsi orang Jepang lebih besar, dimana lebih dari 20 persen diantara penduduknya. Di Hawaii ada dikriminasi pemberian upah terhadap orang Jepang dan usaha untuk menghambat kemajuan mereka ke pekerjaan terampil. Suatu pemogokan buruh pertanian Jepang pada 1909 memperburuk hubungan antara orang Jepang dan orang kulit putih. Diskriminasi upah terhadap orang Jepang pertama makin berkurang ketika orang Amerika keturunan Jepang banyak yang menjadi petani dan majikan dari buruh tani Jepang. Namun petani Jepang membayar buruh tani Jepang lebih tinggi daripada yang dibayarkan petani kulit putih, sehingga petani kulit putih terpaksa menaikkan upah buruh Jepang. Setelah tahun 1909, diskriminasi terhadap buruh tani Jepang pada dasarnya sudah hilang. Satu dasawarsa kemudian, buruh tani Jepang benar-benar menerima upah gaji lebih tinggi daripada buruh tani kulit putih karena orang Jepang bekerja jauh lebih efisien.
Imigran Jepang yang datang ke Amerika Serikat terbagi menjadi beberapa generasi. Generasi pertama dinamakan Issei, generasi kedua disebut Nissei, dan yang ketiga disebut Sansei dan seterusnya. Ketika orang Nissei menjadi dewasa, mereka membentuk organisasi mereka sendiri dengan melakukan konsolidasi kedalam Liga Warga Negara Amerika-Jepang (JACL=Japenesse American Citizen’s Leage) yang pada akhirnya menggantikan persatuan orang Jepang dari kelompok Issei sebagai suara orang Amerika-Jepang. Kelompok Nissei tidak menjadi sasaran diskriminasi seperti yang diderita orang tua mereka. Mereka cenderung berusaha agar lebih diterima dalam masyarakat Amerika yang lebih luas, yang menilai mereka berdasarkan hasil pendidikan dan akulturasi. Meskipun organisasi Issei lebih mendukung dan merasionalisasi pada agresi Jepang pada 1920-an namun keyakinan dari Nissei mulai dengan “ Sayang bangga menjadi warga negara Amerika keturunan Jepang”, dan mengungkaan kesediaaan untuk membela Amerika Serikat “Melawan segala musuh”.
Pada tanggal 7 Desember 1941, generasi pertama Jepang atau Issei melancarkan suatau serangan besar-besaran yang mengejutkan terhadap armada Amerika di Pearl Harbor, Hawaii. Peristiwa ini mengakibatkan kekalahan paling hebat yang pernah dialami bangsa Amerika. Timbul ketakutan yang menjadi-jadi bahwa Pantai Barat Amerika Serikat akan menjadi sasaran berikutnya dari serangan atau bahkan invasi militer Jepang. Kemarahan dan kekhawatiran orang Amerika terhadap Jepang juga berubah melawan orang Amerika keturunan Jepang. Hal ini kadang-kadang diungkapakan secara sporadis dalam bentuk umpatan atau serangan fisik.
Setelah Serangan Pearl Harbor, 7 Desember 1941, orang Jepang yang tinggal di Amerika dicurigai. Pada senja hari yang sama, 736 penduduk keturunan Jepang ditahan. Jumlahnya mereka yang ditahan meningkat menjadi 1.370 orang pada 11 Desember 1941.
Pada 19 Februari 1942, Presiden Franklin Roosevelt menandatangani Executive Order 9066 yang memberi wewenang kepada militer untuk mengeksklusi "sebagian dan semua orang" dari daerah-daerah yang ditetapkan berdasarkan alasan keamanan dalam negeri. Sekitar 120.000 orang Jepang-Amerika dan orang Jepang penduduk Amerika ditahan di 10 kamp interniran di Amerika Serikat.
Kongres Amerika Serikat pada tahun 1980 membentuk Komisi Relokasi Masa Perang dan Penginterniran Warga Sipil. Komisi dibentuk untuk menyelidiki perlakuan tidak adil dan diskriminasi terhadap orang Jepang-Amerika. Menurut laporan komisi yang diumumkan tahun 1983, penginterniran orang Jepang-Amerika tidak berdasarkan alasan keamanan nasional. Presiden Ronald Reagan menandatangani Civil Liberties Act of 1988 yang berisi penyesalan atas terjadinya penginterniran orang Jepang Amerika, dan ganti rugi sebesar AS$20.000 dibayarkan kepada masing-masing korban.


 Daftar Pustaka


1.      Sowell Thomas. 1989. Mozaik Amerika: Sejarah Etnis Sebuah Bangsa. Jakarta. Pustaka Sinar Harapan.
2.      Mann Arthur. 1990. Yang Satu Dan Yang Banyak: Refleksi Tentang Identitas Amerika. Yogyakarta. Gadjah Mada University Press.
3.      Www. Google.com






Bagaimana masalah sosial orang Negro di Amerika?

Masalah Sosial Orang Negro Di Amerika
a.      Perbudakan
Perbudakan di Amerika Serikat berlangsung secara legal hingga diambilnya Amandemen Konstitusi Amerika Serikat ke-13 tahun 1865. Perbudakan sudah dimulai sejak kolonisasi Britania di Virginia tahun 1607, meskipun budak Afrika sudah dibawa ke Florida Spanyol pada tahun 1560-an. Kebanyakan orang yang menjadi budak berkulit hitam dan dimiliki orang yang berkulit putih, meskipun beberapa penduduk asli dan orang berkulit hitam juga memiliki budak. Terdapat pula budak berkulit putih, namun jumlahnya sedikit. Mayoritas pemilik budak berada di Amerika Serikat Selatan, dimana kebanyakan dijadikan "mesin" untuk pertanian.
b.      Gerakan Hak Asasi
Pada 1873 Mahkamah Agung menemukan bahwa amandemen ke-14 (hak-hak kewarganegaraan tidak boleh dikurangi) tidak memberikan hak istimewa baru atau kekebalan yang dapat melindungi kaum Afrika-Amerika terhadap hukumhukum negara bagian. Pada 1883, lebih lanjut lagi, ditentukan bahwa amandemen ke-14 tidak mencegah individu untuk mempraktekkan diskriminasi, tidak seperti negara bagian. Dan dalam kasus Plessy melawan Ferguson (1896), Mahkamah menemukan bahwa “pemisahan tapi setara” dalam fasilitas-fasilitas publik bagi kaum kulit hitam, seperti di kereta dan restoran, tidak melanggar hak-hak mereka. Dengan cepat prinsip pemisahan berdasarkan ras ini meluas ke semua bidang kehidupan di Selatan, dari kereta api ke restoran, hotel, rumah sakit dan sekolah. Dan lagi, semua bidang kehidupan yang tidak dipisahkan oleh hukum negara bagian, dipisahkan oleh kebiasaan dan budaya.
Selanjutnya diikuti dengan pembatasan hak untuk memilih. Peristiwa pembunuhan besar-besaran yang dilakukan secara berkala oleh para mafia menegaskan keinginan daerah itu untuk menekan populasi orang kulit hitam. Diperhadapkan dengan diskriminasi yang semakin menyebar, banyak kaum Afrika-Amerika mengikuti seorang tokoh bernama Booker T. Washington, yang menasehati mereka untuk memusatkan perhatian kepada tujuan-tujuan ekonomi sederhana dan untuk menerima diskriminasi sosial sementara. Yang lainnya, dipimpin oleh seorang tokoh cendikia Afrika-Amerika, W.E.B DuBois, mencoba menentang diskriminasi melalui tindakan politik. Tapi dengan kedua partai besar tidak tertarik dengan masalah ini dan teori ilmu pengetahuan saat itu yang umumnya menerima kelemahan orang kulit hitam, seruan untuk keadilan rasial tidak mendapat banyak dukungan.
Kaum Afrika-Amerika menjadi semakin resah tak sabar pada era pasca perang. Selama perang mereka menantang diskriminasi dalam angkatan bersenjata dan angkatan kerja Amerika dan berhasil mendapatkannya, meski secara terbatas. Jutaan kaum Afrika- Amerika meninggalkan lahan pertanian di Selatan menuju perkotaan di Utara, tempat mereka berharap dapat menemukan pekerjaan yang lebih baik. Mereka malah mendapati kota yang kumuh dan padat. Pada saat itu, banyak veteran perang kaum Afrika- Amerika yang pulang dari medan perang berniat menolak kewarganegaraan kelas dua. Jackie Robinson mendramatisasi pertanyaan perbedaan ras pada 1947 ketika dia meninggalkan jajaran pemain bisbol kulit berwarna dan mulai bermain di liga utama. Sebagai anggota tim Brooklyn Dodgers, ia sering menghadapi masalah dengan lawan main, juga kawan satu timnya. Namun permainan luar biasa pada awal musim membuat dirinya bisa diterima dan memudahkan jalan pemain Afrika-Amerika lainnya, yang kini meninggalkan liga Negro yang membatasi gerak mereka.
Pejabat pemerintahan dan banyak rakyat Amerika lain, menemukan kaitan masalah perbedaan ras dengan politik Perang Dingin. Sebagai pemimpin dunia yang merdeka, Amerika berjuang mendapat dukungan kawasan Afrika dan Asia. Diskriminasi dalam negeri Amerika diselimuti perjuangan mendapatkan sekutu dan dukungan dari belahan dunia lain. Harry Truman mendukung gerakan hak asasi itu. Secara pribadi ia percaya pada persamaan secara politik, walau bukan persamaan secara sosial dan mengakui semakin pentingnya suara pemilih kaum Afrika Amerika di kota besar. Ketika hal itu diumumkan pada 1946 dan terjadi serangkaian kejadian pembunuhan dan gerakan kekejaman anti-kulit hitam di Selatan,
Truman menunjuk komisi hak asasi manusia untuk menyelidiki masalah diskriminasi ini. Komisi itu menghasilkan laporan berjudul To Secure These Rights (Menyelamatkan Hak-hak Ini) yang diterbitkan setahun kemudian, mendokumentasikan status warga kelas dua kaum Afrika Amerika dalam kehidupan di Amerika dan merekomendasikan sejumlah pertimbangan bagi pemerintahan federal untuk menjamin hak bagi seluruh rakyat. Truman menanggapinya dengan mengirim 10 poin program bab 12: Ameri ka pasca peran g hak asasi ke Kongres. Wakil Partai Demokrat dari Selatan yang duduk di Kongres berhasil memblokir implementasi program tersebut. Sejumlah pihak yang paling marah, dipimpin Gubernur South Carolina Storm Thurmond, membentuk Partai Hak Negara Bagian untuk menentang presiden Truman pada 1948.
Asosiasi Nasional untuk Kemajuan Warga Kulit Berwarna (National Association for the Advancement of Colored People—NAACP) memimpin upaya membatalkan doktrin pengadilan di Mahkamah Agung dengan kasus Plessy v. Ferguson pada 1896, bahwa segregasi mahasiswa kaum Afrika Amerika dan kulit putih sesuai konstitusi jika fasilitasnya “terpisah namun setara.” Keputusan persidangan ini selama beberapa dekade digunakan untuk membenarkan segregasi tegas dalam segala segi kehidupan di Selatan, tempat fasilitas umum sangat jarang, jika memang ada, setara. K aum Afrika-Amerika berhasil mencapai tujuan mereka dengan pembatalan keputusan kasus Plessy pada 1954 ketika Mahkamah Agung—dipimpin oleh jaksa yang ditunjuk oleh Eisenhower, Jaksa Agung Earl Warren—mengumumkan keputusan kasus Brown v. Board of Education.
Persidangan mengumumkan, atas persetujuan seluruh pihak, bahwa “pada dasarnya fasilitas yang terpisah tidak sesuai dengan persamaan hak” dan mengeluarkan pernyataan bahwa doktrin “terpisah tapi sama” tak berlaku lagi di sekolah negeri. Setahun kemudian, MA mendesak dewan sekolah setempat “segera” mengimplementasikan keputusan MA. Walaupun bersimpati terhadap kebutuhan negara bagian di Selatan manakala menghadapi transisi besar, Eisenhower tetap memastikan agar hukum tetap ditegakkan di tengah pertentangan besar-besaran di sebagian besar wilayah Selatan. Eisenhower menghadapi krisis besar di Little Rock, Arkansas, pada 1957, ketika Gubernur Orval Faubus berusaha menghalangi rencana penghapusan segregasi dengan menerima pendaftaran sepuluh siswa berkulit hitam ke Central High School yang tadinya merupakan sekolah khusus masyarakat berkulit putih.
Setelah bernegosiasi tanpa hasil, presiden mengirim pasukan pemerintahan federal ke Little Rock untuk menerapkan rencana tersebut. Gubernur Faubus menanggapi dengan memerintahkan agar semua SMU di Little Rock ditutup selama tahun ajaran 1958-59. Akan tetapi persidangan federal memerintahkan untuk membuka kembali semua sekolah pada tahun ajaran berikutnya. Mereka melakukannya dalam suasana tegang terhadap sejumlah kecil siswa kaum Afrika Amerika. Oleh karena itu, proses penghapusan segregasi sekolah berjalan dengan lamban dan tak menentu di hampir seluruh wilayah Selatan.
Abraham Lincoln menentang perbudakan, perbudakan pun dihapuskan pada 1863 melalui status hukum. Sebagai penentang perbudakan, Dia mengeluarkan dekrit yang memerintahkan penghapusan perbudakan melalui Proclamation of Emancipation pada tahun 1863.
Ø  Yang pertama dikeluarkan pada tanggal 22 September 1862, yang mengumumkan pembebasan budak yang berada pada Negara Konfederasi Amerika yang belum bergabung kembali kepada Amerika Serikat pada tanggal 1 januari 1863.
Ø  Yang ke dua dikeluarkan pada tanggal 1 januari 1863, yang menyebutkan secara spesifik di negara bagian mana saja pembebasan budak berlaku.
Penggantinya, Andrew Johnson, juga mendambakan persatuan kembali orang kulit putih, tapi gagal mempertahankan hak para budak yang baru dibebaskan hingga mencapai kurang lebih 4 juta budak berhasil dibebaskan pada tahun 1865.
Meski demikian, perbedaan ras masih terasa hingga akhirnya sekitar awal dan pertengahan abad ke-20, rakyat kulit hitam mulai bangkit melawan diskriminasi terhadap suku mereka.
Terobosan lain dalam gerakan hak asasi terjadi pada 1955 di Montgomery, Alabama. Rosa Parks, wanita kaum Afrika Amerikaberusia 42 tahun yang berprofesi penjahit sekaligus sekretaris NAACP, duduk di bagian depan bis, di bagian yang sesuai kebiasaan dan sesuai hukum, disediakan untuk orang kulit putih. Dia menolak ketika disuruh pindah ke belakang. Polisi datang dan menangkapnya karena telah melanggar statuta segregasi.
Pemimpin kaum Afrika Amerika, yang telah menunggu-nunggu kasus seperti ini, mengorganisasi pemboikotan sistem bis. Martin Luther King Jr., pendeta muda dari gereja Baptist tempat bekumpulnya kaum Afrika Amerika, menjadi jubir dalam melakukan protes.

Sepanjang hidupnya, Dr. King tidak pernah berhenti untuk menyuarakan keadilan dan kesetaraan hak-hak manusia. Ia melakukan aksi menentang diskriminasi terhadap orang-orang kulit hitam.
Dengan kepemimpinannya yang kuat, dibarengi juga dengan kemampuan berpidato yang belum pernah ada sebelumnya, ia memberi kekuatan bagi banyak warga Negro yang selama bertahun-tahun menerima ketidakadilan. Pidatonya dengan judul "Saya Memiliki Impian" pada pawai berbarisnya ke Washington, DC (28 Agustus 1963) membuatnya semakin terkenal.
Upayanya ini membuka jalan bagi penerapan hukum baru yang jauh lebih adil. Lalu, berkat usaha kerasnya yang tentu saja didukung oleh begitu banyak warga kulit hitam lain, Perjanjian Birmingham akhirnya disepakati pada 10 Mei 1963. Perjanjian tersebut mengakhiri praktik pengucilan (segregasi) yang selama ini diberlakukan bagi kaum Negro di toko-toko, sekolah-sekolah, dan restoran-restoran.
Lembaga yang mendukung perjuangan Martin Luther King Jr adalah:
1)      Montgomery Improvement Association merupakan organisasi yang dibentuk oleh warga kulit hitam untuk mengorganisir pemboikotan menyusul penahanan Rosa Parks.
2)      Mimbar gereja yang digunakan oleh Martin Luter untuk untuk menyuarakan keadilan dan kesetaraan hak-hak manusia. 
3)      Southern Christian Leadership Conference merupakan organisasi yang dibentuk oleh Dr. King pada tahun 1957 yang bertujuan mempersiapkan para pemimpin baru bagi gerakan yang kini tengah berkembang itu. Ia sendiri terpilih menjadi presiden organisasi tersebut.
Dalam pidatonya I Have a Dream ia menyuarakan tentang “Akan datang suatu masa.” serunya, “ketika orang jenuh... ditendang oleh kebrutalan kaki penindas.” Martin Luther King Jr. ditangkap, dan akan bolak-balik ditangkap; ada bom yang merusak bagian depan rumahnya. Ia ditembak mati pada 4 april 1968 saat ia di balkon Lorraine Motel, oleh pembunuh misterius yaitu James Earl Ray, tepat di bagian tenggorokan. Ia dinyatakan meninggal di Rumah Sakit St. Joseph pukul 19:05.
Walau Amandemen ke-15 UUD Amerika menjamin hak untuk memilih, banyak negara bagian mencari cara untuk melanggarnya. Negara bagian akan mengadakan pajak suara (“kepala”) atau tes buta huruf—biasanya lebih sering diterapkan untuk kaum Afrika Amerika— untuk mencegah Kaum Afrika Amerika yang miskin berpendidikan rendah supaya tidak bisa memberi suara dalam pemilu. Eisenhower, bekerja sama dengan pemimpin mayoritas Senat, Lyndon B. Johnson, menyatakan dukungannya terhadap usaha konstitusional untuk menjamin hak pilih.
UU Hak Asasi pada 1957, tindakan pertama yang diambil dalam 82 tahun, menandakan satu langkah maju, karena hal itu memberi wewenang campur tangan pemerintahan federal dalam kasus jika kaum Afrika Amerika tidak diberi kesempatan untuk memilih. Tapi masih ada lubang di sana-sini, jadi para aktivis mendorong UU Hak Asasi pada 1960, yang memberikan penalti yang lebih besar jika menghalangi pemberian suara, namun belum memberi wewenang kepada pemerintah federal untuk mendaftar pemilih dari kaum Afrika Amerika. Mengandalkan usaha kaum Afrika-Amerika itu sendiri, gerakan hak asasi mendapat momentum pada era pascaperang. Bergerilya melalui Mahkamah Agung dan Kongres, pendukung hak asasi telah menciptakan landasan bagi “revolusi” yang drastis namun damai dalam hal hubungan antar ras di Amerika pada era 1960-an.
Perjuangan Masyarakat Afrika- Amerika demi kesetaraan mencapai puncaknya pada pertengahan 1960-an. Setelah kemenangan progresif pada 1950-an, masyarakat Afrika- Amerika bahkan menjadi lebih percaya dengan melakukan aksi langsung tanpa kekerasan. seperti Southern Christian Leadership Conference (SCLC), terdiri dari para pemuka agama Masyarakat Afrika-Amerika dan Student Nonviolent Coordinating Committee (SNCC), yang terdiri dari aktivis yang lebih muda, mencari reformasi melalui konfrontasi damai. Pada 1960 mahasiswa Afrika-Amerika duduk di tempat makan siang yang memang terpisahkan di Woolworth, North Carolina. Mereka menolak pergi. Perbuatan ini menarik perhatian media dan berujung pada demonstrasi serupa di selatan. Tahun berikutnya, pekerja Hak Asasi mengorganisasi “ freedom rides” atau perjalanan kebebasan. Di sini orang Afrika-Amerika dan orang kulit putih menaiki bis bergerak ke selatan menuju terminal yang juga terpisah, tempat konfrontasi bisa menarik perhatian media dan mengarah kepada perubahan.
Mereka juga mengorganisasi sekumpulan besar massa, yang terbesar adalah “March on Washington” pada 1963. Lebih dari 200.000 orang berkumpul di ibukota Negara untuk mendemonstrasikan komitmen mereka terhadap kesetaraan untuk semua orang. Malcolm X, aktivis yang fasih berbicara, juga merupakan sosok yang paling menonjol dalam perdebatan masalah pemisahan masyarakat Afrika-Amerika dari ras kulit putih. Stokely Carmichael, pemimpin pelajar, juga terbebas dari ilusi serupa dengan adanya gagasan tanpa kekerasan dan kerjasama antarras. Ia mempopulerkan slogan “kekuatan hitam” (black power). Hal ini yang harus dicapai dengan “apa pun yang dibutuhkan.” seperti yang diucapkan Malcolm X. Kekerasan diiringi panggilan militan untuk bereformasi. Kerusuhan pecah di beberapa kota besar pada 1966 dan 1967. Pada musim semi 1968, Martin Luther King Jr. ditembak. Beberapa bulan kemudian, Senator Robert Kennedy, juru bicara pihak yang dirugikan dan lawan dari Perang Vietnam, juga saudara dari presiden yang terbunuh, hidupnya berakhir dengan cara yang sama.
Banyak hal dari dua pembunuhan ini yang menandai akhir dari era tidak bersalah dan idealisme. Militan yang berkembang di sisi kiri, dirangkai dengan reaksi keras konservatif yang tidak bisa dihindarkan, mengakibatkan keretakan dalam jiwa bangsa yang membutuhkan waktu tahunan untuk sembuh. Bagaimanapun juga, hingga saat itu tiba, gerakan Hak Asasi yang didukung oleh keputusan pengadilan, pengesahan kongresional dan peraturan administratif federal tidak bisa dijalin ke dalam kain kehidupan Amerika. Isu besarnya adalah tentang implementasi kesetaraan dan akses, bukan tentang legalitas pemisahan atau penghilangan hak legal. 




Daftar Pustaka

1.      Sowell Thomas. 1989. Mozaik Amerika: Sejarah Etnis Sebuah Bangsa. Jakarta. Pustaka Sinar Harapan.
2.      Mann Arthur. 1990. Yang Satu Dan Yang Banyak: Refleksi Tentang Identitas Amerika. Yogyakarta. Gadjah Mada University Press.
3.      Www. Google.com
http://indonesian.irib.ir/hidden-1//asset_publisher/m7UK/content/diskriminasi-rasial-dalam-sinema-as

Bagaimana masalah sosial orang Indian di Amerika?


   Masalah Sosial Orang Indian
a.      Masalah perluasan
Dengan berakhirnya Revolusi, Amerika Serikat sekali lagi harus menghadapi pertanyaan lama yang belum terjawab: masalah perluasan,dengan komplikasi masalah lahan, perdagangan bulu, suku Indian, pemukiman, dan pemerintahan lokal. Tergoda oleh lahan terkaya yang belum ditemukan di negara ini, para pionir membanjir ke Pegunungan Appalachian hingga ke baliknya. Menjelang 1775, ada banyak pos penjagaan yang tersebar di sepanjang sungai dengan puluhan ribu pemukim. Terpisah oleh deretan gunung dan berada ratusan kilometer dari pusat kekuasaan politik di Timur, para penduduk mendirikan pemerintahan mereka sendiri. Para pemukim dari semua negara bagian Tidewater merangsek maju ke lembah sungai yang subur, hutan kayu keras, dan hamparan padang gurun di pedalaman.
Menjelang 1790, populasi kawasan trans-Appalachian berkembang pesat menjadi 120.000 orang. Sebelum perang, beberapa koloni telah mengklaim lahan yang sangat luas dan sering kali tumpang tindih hingga ke daerah jauh ke balik pegunungan Appalachian. Bagi orang yang tidak memiliki klaim semacam itu, harta kawasan kaya ini terlihat dibagi secara tidak adil. Oleh karena itu Maryland menyuarakan keinginan kelompok tersebut dengan memperkenalkan resolusi agar lahan di daerah barat dianggap sebagai milik umum yang akan dibagikan oleh Kongres kepada pemerintahan yang bebas dan merdeka. Ide ini tidak diterima dengan antusias. Meski demikian, pada 1780 New York membuka jalan ketika menyerahkan seluruh lahan yang telah diklaimnya. Pada 1784, Virginia, pemilik klaim paling besar, membebaskan semua tanah di utara Sungai Ohio. Negara bagian lainnya menyerahkan klaim mereka, dan jelas Kongres akan memiliki seluruh lahan di utara Sungai Ohio dan barat Pegunungan Allegheny. Kepemilikan publik jutaan hektar lahan ini merupakan bukti paling terlihat akan masih adanya nasionalisme dan persatuan dan menjadi substansi gagasan kedaulatan nasional.
Pada saat yang sama, kawasan luas ini merupakan masalah yang membutuhkan solusi. Kongres Konfederasi mengukuhkan sistem pemerintahan otonomi terbatas bagi Northwest Territory nasional baru ini. Ordinansi Northwest 1787 awalnya menyediakan organisasi berupa distrik tunggal yang dipimpin gubernur dan para hakim yang ditunjuk oleh Kongres.
Ketika wilayah ini memiliki penduduk 5.000 pria bebas yang sudah punya hak suara, kawasan ini mendapatkan hak atas dewan legislatif dua mkamar, yang dengan sendirinya akan memilih dewan yang lebih rendah. Selain itu, bisa saja pada saat itu mereka mengirim seorang delegasi tanpa hak suara ke Kongres. Tiga hingga lima negara bagian akan dibentuk seiring kemapanan kawasan itu. Kapan pun salah satu negara bagian memiliki 60.000 penduduk bebas, negara bagianitu akan diakui oleh Perserikatan “memiliki posisi setara dengan negara bagian asli dalam segala hal.” Ordinansi itu menjamin hak dan kebebasan sipil, mendorong pendidikan, dan melarang perbudakan atau pun segala bentuk hamba kontrak. Kebijakan baru itu menegasikan konsep lekang bahwa negara koloni ada demi keuntungan negara induk, tunduk secara politik dan dihuni kalangan yang lebih rendah. Sebaliknya, kebijakan ini mengukuhkan prinsip bahwa koloni (“wilayah”) merupakan perpanjangan tangan negara dan berhak, bukan sebagai hak istimewa melainkan hak biasa, menerima segala manfaat kesetaraan.
                Pada awal abad ke-19, figur paling menonjol yang terkait dengan suatu konflik ialah Andrew Jackson, “orang Barat” pertama yang duduk di Gedung Putih. Di tengah-tengah Perang 1812, Jackson, yang pada saat itu memimpin kekuatan militer Tennessee, dikirim ke Alabama selatan, tempat dia dengan kejam memadamkan pemberontakan orang Indian Creek. Suku Indian Creek tak lama kemudian menyerahkan dua pertiga wilayahnya kepada merika Serikat. Jackson kemudian mengusir sekawanan Indian Seminol dari daerah suaka mereka di Florida yang dimiliki bangsa Spanyol. Pada 1820-an, sekretaris perang Presiden Monroe, John C. Calhoun, mengusulkan kebijakan mengusir suku Indian yang masih tinggal di daerah Barat Daya lama dan memindahkan mereka jauh dari Mississippi. Jackson melanjutkan kebijakan ini saat menjabat sebagai presiden.
            Seperti juga di Timur, perluasan kepada dataran-dataran dan pegunungan oleh para penambang, peternak dan para penetap membawa pertikaian yang meningkat dengan para suku asli di wilayah Barat. Banyak suku asli Amerika – dari suku Utes di Great Basin sampai ke suku Nez Perces di Idaho – berperang melawan orang kulit putih sesekali waktu. Namun suku Sioux di dataran Utara dan Apache di barat daya yang memberikan perlawanan paling signifikan terhadap kemajuan perbatasan. Dipimpin oleh pemimpin-pemimpin cerdik seperti Red Cloud dan Crazy Horse, suku Sioux khususnya, sangat mahir pada pertempuran cepat di atas kuda. Para Apache juga sama mahirnya dan sangat sulit ditangkap, bertempur pada medan tempur mereka di padang-padang gurun dan lembah-lembah.
            Pertikaian dengan para Indian dataran semakin memburuk setelah kejadian membuat Dakota (bagian dari negara suku Sioux), yang mengumumkan perang melawan pemerintahan Amerika Serikat karena keluhan yang tidak kunjung ditanggapi, membunuh lima penduduk kulit putih. Pemberontakan dan peperangan terus berlanjut selama Perang Saudara. Pada 1876 perang besar terakhir suku Sioux meletus, ketika perebutan emas di Dakota memasuki wilayah Black Hills. Pasukan tentara seharusnya menjaga agar para penambang tidak memasuki daerah berburu suku Sioux, namun dengan ogah-ogahan melindungi tanah suku Sioux. Namun ketika mereka diperintahkan untuk bertindak atas sekelompok suku Sioux yang berburu memasuki sedikit daerah kekuasaan mereka, mereka bergerak dengan sangat cepat dan ganas.
            Pada 1876, setelah beberapa pertempuran kecil, Kolonel George Custer, dengan sepasukan kecil pasukan pejalan kakinya bertemu dengan pasukan besar suku Sioux dan para sekutunya di Sungai Little Bighorn. Custer dan pasukannya dihancurkan total. Namun, perlawanan para suku asli Amerika tidak lama kemudian berhasil ditekan. Kemudian, pada 1890, ritual tarian hantu di penampungan Sioux bagian utara di Wounded Knee, Dakota Selatan, berujung pada pemberontakan dan pertempuran akhir yang tragis yang membawa kematian kepada hampir 300 pria, wanita, dan anak-anak Sioux. Jauh sebelum ini, kehidupan para Indian dataran telah dihancurkan oleh populasi orang kulit putih yang pertumbuhan dan perubahan berkembang, kedatangan perusahaan kereta api dan pembantaian banteng-banteng, hampir dipunahkan dalam satu dekade setelah 1870 oleh perburuan liar para pendatang.
Lembaga yang membantu dalam pemecahan masalah Indian ini adalah:
ü  Tahun 1994 didirikan National Congressof American Indians yang merupakan organisasi nasional bagi kaum Indian yang memperjuangkan hak hak kaum Indian di mata hukum Amerika Serikat. Sejak adanya organisasi ini, mulailah hak hak orang Indian dikembalikan sedikit demi sedikit. Namun demikian, pemerintah Amerika Serikat masih  berusaha untuk membuat pembatasan-pembatasan. Di tahun 1953 dikeluarkan kebijakan Termination Policy, yang menghentikan bantuan bagi beberapa suku Indian tertentu. Berkat tantangan keras dari warga Indian, kebijakan ini akhirnya dibatalkan.
Faktor organisasi masih sangat kurang disana. Salah satu organisasi orang Indian yang paling maju adalah
ü  Zapatista dibentuk tahun 1994, sebuah kelompok bersenjata pribumi Meksiko revolusioner berbasis di Chiapas di Mexico dari suku Mayan, Indian Amerika. Zapatista mengangkat senjata bukan untuk merebut kekuasaan, tapi untuk menciptakan sebuah ruang demokratis dimana pertentangan antar pandangan politik yang berbeda-beda bisa dibicarakan. Mereka ingin menunjukan kepada dunia bahwa cara lain untuk berpolitik itu sungguh ada, yang salah satunya bisa dilihat dari praktik kehidupan swadaya masyarakat adat.
            Perang Apache di barat daya terus berlangsung sampai pada 1886, pemimpin terakhir mereka, Geronimo, tertangkap. Kebijakan pemerintah sejak adminitrasi Monroe sebenarnya telah berfokus pada pemindahan para suku asli keluar jangkauan para pendatang kulit putih. Namun dengan tidak terhindarkan, kawasan perlindungan para Indian menjadi semakin kecil dan semakin padat. Beberapa warga Amerika mulai memprotes perlakuan pemerintah terhadap suku Indian. Helen Hunt Jackson, sebagai contohnya, menulis buku berjudul A Century of Dishonor (1881), yang mendramatisir kemalangan mereka dan membuka hati nurani negeri itu.
            Pada tahun 1934 pemerintah mengesahkan Indian Reorganization Act yang menghentikan semua bentuk pengusiran orang Indian dari tanahnya. Namun orang Indian tetap diberi tempat yang disebut Reservation Area yang prakteknya mengasingkan orang Indian.
            Pada tahun 1971, dikeluarkan Alaska Native Claims Settlement  Act yang mengatur pengembalian hak tanah pada kaum Indian Alaska. Tahun 1972 presiden Nixon mengeluarkan perintah pengembalian Mount Adams kepada suku Indian Yakima di Washington DC. Tahun 1980 pemerintah membayar ganti rugi sebesar 105 juta dollar pada suku Sioux untuk tanah yang dirampas pada tahun 1877. Suku Sioux menolak ganti rugi yang hanya berupa uang. Mereka akhirnya memenangkan pengembalian Blade Hill di South Dakota. Barulah di tahun 1990 tampak perbaikan tingkat kesejahteraan yang mencolok di kalangan kaum Indian.


Daftar Pustaka




Nasionalisme Arab