Masalah Sosial Orang Indian
a. Masalah
perluasan
Dengan
berakhirnya Revolusi, Amerika Serikat sekali lagi harus menghadapi pertanyaan
lama yang belum terjawab: masalah perluasan,dengan komplikasi masalah lahan,
perdagangan bulu, suku Indian, pemukiman, dan pemerintahan lokal. Tergoda oleh
lahan terkaya yang belum ditemukan di negara ini, para pionir membanjir ke
Pegunungan Appalachian hingga ke baliknya. Menjelang 1775, ada banyak pos
penjagaan yang tersebar di sepanjang sungai dengan puluhan ribu pemukim. Terpisah oleh deretan gunung dan berada ratusan kilometer
dari pusat kekuasaan politik di Timur, para penduduk mendirikan pemerintahan
mereka sendiri. Para pemukim dari semua negara bagian Tidewater merangsek maju
ke lembah sungai yang subur, hutan kayu keras, dan hamparan padang gurun di
pedalaman.
Menjelang 1790, populasi kawasan trans-Appalachian
berkembang pesat menjadi 120.000 orang. Sebelum perang, beberapa koloni telah
mengklaim lahan yang sangat luas dan sering kali tumpang tindih hingga ke
daerah jauh ke balik pegunungan Appalachian. Bagi orang yang tidak memiliki
klaim semacam itu, harta kawasan kaya ini terlihat dibagi secara tidak adil.
Oleh karena itu Maryland menyuarakan keinginan kelompok tersebut dengan
memperkenalkan resolusi agar lahan di daerah barat dianggap sebagai milik umum
yang akan dibagikan oleh Kongres kepada pemerintahan yang bebas dan merdeka.
Ide ini tidak diterima dengan antusias. Meski demikian, pada 1780 New York
membuka jalan ketika menyerahkan seluruh lahan yang telah diklaimnya. Pada 1784, Virginia, pemilik klaim paling besar,
membebaskan semua tanah di utara Sungai Ohio. Negara bagian lainnya menyerahkan
klaim mereka, dan jelas Kongres akan memiliki seluruh lahan di utara Sungai
Ohio dan barat Pegunungan Allegheny. Kepemilikan publik jutaan hektar lahan ini
merupakan bukti paling terlihat akan masih adanya nasionalisme dan persatuan
dan menjadi substansi gagasan kedaulatan nasional.
Pada saat yang sama, kawasan luas ini merupakan masalah
yang membutuhkan solusi. Kongres Konfederasi mengukuhkan sistem
pemerintahan otonomi terbatas bagi Northwest Territory nasional baru ini.
Ordinansi Northwest 1787 awalnya menyediakan organisasi berupa distrik tunggal
yang dipimpin gubernur dan para hakim yang ditunjuk oleh Kongres.
Ketika wilayah
ini memiliki penduduk 5.000 pria bebas yang sudah punya hak suara, kawasan ini
mendapatkan hak atas dewan legislatif dua mkamar, yang dengan sendirinya akan
memilih dewan yang lebih rendah. Selain
itu, bisa saja pada saat itu mereka mengirim seorang delegasi tanpa hak suara
ke Kongres. Tiga hingga lima negara bagian akan dibentuk seiring kemapanan
kawasan itu. Kapan pun salah satu negara bagian memiliki 60.000 penduduk bebas,
negara bagianitu akan diakui oleh Perserikatan “memiliki posisi setara dengan
negara bagian asli dalam segala hal.” Ordinansi itu menjamin hak dan kebebasan
sipil, mendorong pendidikan, dan melarang perbudakan atau pun segala bentuk
hamba kontrak. Kebijakan baru itu menegasikan konsep lekang bahwa negara koloni
ada demi keuntungan negara induk, tunduk secara politik dan dihuni kalangan
yang lebih rendah. Sebaliknya, kebijakan ini mengukuhkan prinsip bahwa koloni
(“wilayah”) merupakan perpanjangan tangan negara dan berhak, bukan sebagai hak
istimewa melainkan hak biasa, menerima segala manfaat kesetaraan.
Pada
awal abad ke-19, figur paling menonjol yang terkait dengan suatu konflik ialah
Andrew Jackson, “orang Barat” pertama yang duduk di Gedung Putih. Di
tengah-tengah Perang 1812, Jackson, yang pada saat itu memimpin kekuatan
militer Tennessee, dikirim ke Alabama selatan, tempat dia dengan kejam
memadamkan pemberontakan orang Indian Creek. Suku Indian Creek tak lama kemudian menyerahkan dua
pertiga wilayahnya kepada merika Serikat. Jackson kemudian mengusir sekawanan
Indian Seminol dari daerah suaka mereka di Florida yang dimiliki bangsa
Spanyol. Pada 1820-an, sekretaris perang Presiden Monroe, John C. Calhoun,
mengusulkan kebijakan mengusir suku Indian yang masih tinggal di daerah Barat
Daya lama dan memindahkan mereka jauh dari Mississippi. Jackson melanjutkan
kebijakan ini saat menjabat sebagai presiden.
Seperti
juga di Timur, perluasan kepada dataran-dataran dan pegunungan oleh para
penambang, peternak dan para penetap membawa pertikaian yang meningkat dengan
para suku asli di wilayah Barat. Banyak suku asli Amerika – dari suku Utes di
Great Basin sampai ke suku Nez Perces di Idaho – berperang melawan orang kulit
putih sesekali waktu. Namun suku Sioux di dataran Utara dan Apache di barat
daya yang memberikan perlawanan paling signifikan terhadap kemajuan perbatasan.
Dipimpin oleh pemimpin-pemimpin cerdik seperti Red Cloud dan Crazy Horse, suku
Sioux khususnya, sangat mahir pada pertempuran cepat di atas kuda. Para Apache
juga sama mahirnya dan sangat sulit ditangkap, bertempur pada medan tempur
mereka di padang-padang gurun dan lembah-lembah.
Pertikaian dengan para Indian
dataran semakin memburuk setelah kejadian membuat Dakota (bagian dari negara
suku Sioux), yang mengumumkan perang melawan pemerintahan Amerika Serikat
karena keluhan yang tidak kunjung ditanggapi, membunuh lima penduduk kulit
putih. Pemberontakan dan peperangan terus berlanjut selama Perang Saudara. Pada
1876 perang besar terakhir suku Sioux meletus, ketika perebutan emas di Dakota
memasuki wilayah Black Hills. Pasukan tentara seharusnya menjaga agar para
penambang tidak memasuki daerah berburu suku Sioux, namun dengan ogah-ogahan
melindungi tanah suku Sioux. Namun ketika mereka diperintahkan untuk bertindak
atas sekelompok suku Sioux yang berburu memasuki sedikit daerah kekuasaan
mereka, mereka bergerak dengan sangat cepat dan ganas.
Pada 1876, setelah beberapa
pertempuran kecil, Kolonel George Custer, dengan sepasukan kecil pasukan
pejalan kakinya bertemu dengan pasukan besar suku Sioux dan para sekutunya di
Sungai Little Bighorn. Custer dan
pasukannya dihancurkan total. Namun, perlawanan para suku asli Amerika tidak
lama kemudian berhasil ditekan. Kemudian, pada 1890, ritual tarian hantu di
penampungan Sioux bagian utara di Wounded Knee, Dakota Selatan, berujung pada
pemberontakan dan pertempuran akhir yang tragis yang membawa kematian kepada
hampir 300 pria, wanita, dan anak-anak Sioux. Jauh sebelum ini, kehidupan para
Indian dataran telah dihancurkan oleh populasi orang kulit putih yang
pertumbuhan dan perubahan berkembang, kedatangan perusahaan kereta api dan
pembantaian banteng-banteng, hampir dipunahkan dalam satu dekade setelah 1870 oleh perburuan
liar para pendatang.
Lembaga
yang membantu dalam pemecahan masalah Indian ini adalah:
ü Tahun
1994 didirikan National Congressof
American Indians yang merupakan organisasi nasional bagi kaum Indian yang
memperjuangkan hak hak kaum Indian di mata hukum Amerika Serikat. Sejak adanya
organisasi ini, mulailah hak hak orang Indian dikembalikan sedikit demi
sedikit. Namun demikian, pemerintah Amerika Serikat masih berusaha untuk membuat pembatasan-pembatasan.
Di tahun 1953 dikeluarkan kebijakan Termination Policy, yang menghentikan
bantuan bagi beberapa suku Indian tertentu. Berkat tantangan keras dari warga
Indian, kebijakan ini akhirnya dibatalkan.
Faktor
organisasi masih sangat kurang disana. Salah satu organisasi orang Indian yang
paling maju adalah
ü Zapatista
dibentuk tahun 1994, sebuah kelompok bersenjata pribumi Meksiko revolusioner
berbasis di Chiapas di Mexico dari suku Mayan, Indian Amerika.
Zapatista mengangkat senjata bukan untuk merebut kekuasaan, tapi untuk
menciptakan sebuah ruang demokratis dimana pertentangan antar pandangan politik
yang berbeda-beda bisa dibicarakan. Mereka ingin menunjukan kepada dunia bahwa
cara lain untuk berpolitik itu sungguh ada, yang salah satunya bisa dilihat
dari praktik kehidupan swadaya masyarakat adat.
Perang Apache di barat daya terus
berlangsung sampai pada 1886, pemimpin terakhir mereka, Geronimo, tertangkap.
Kebijakan pemerintah sejak adminitrasi Monroe sebenarnya telah berfokus pada
pemindahan para suku asli keluar jangkauan para pendatang kulit putih. Namun dengan tidak terhindarkan, kawasan perlindungan
para Indian menjadi semakin kecil dan semakin padat. Beberapa warga Amerika
mulai memprotes perlakuan pemerintah terhadap suku Indian. Helen Hunt Jackson,
sebagai contohnya, menulis buku berjudul A Century of Dishonor (1881), yang
mendramatisir kemalangan mereka dan membuka hati nurani negeri itu.
Pada tahun 1934 pemerintah
mengesahkan Indian Reorganization Act yang menghentikan semua bentuk pengusiran
orang Indian dari tanahnya. Namun orang Indian tetap diberi tempat yang disebut
Reservation Area yang prakteknya mengasingkan orang Indian.
Pada tahun 1971, dikeluarkan Alaska
Native Claims Settlement Act yang
mengatur pengembalian hak tanah pada kaum Indian Alaska. Tahun 1972 presiden
Nixon mengeluarkan perintah pengembalian Mount Adams kepada suku Indian Yakima
di Washington DC. Tahun 1980 pemerintah membayar ganti rugi sebesar 105 juta
dollar pada suku Sioux untuk tanah yang dirampas pada tahun 1877. Suku Sioux
menolak ganti rugi yang hanya berupa uang. Mereka akhirnya memenangkan
pengembalian Blade Hill di South Dakota. Barulah di tahun 1990 tampak perbaikan
tingkat kesejahteraan yang mencolok di kalangan kaum Indian.
Daftar Pustaka
- 1. Sowell
Thomas. 1989. Mozaik Amerika: Sejarah
Etnis Sebuah Bangsa. Jakarta. Pustaka Sinar Harapan.
- 2. Mann
Arthur. 1990. Yang Satu Dan Yang Banyak:
Refleksi Tentang Identitas Amerika. Yogyakarta. Gadjah Mada University
Press.
- 3. Www.
Google.com
- a. http://id.wikipedia.org/wiki/Jepang-Amerika
- http://indonesian.irib.ir/hidden-1//asset_publisher/m7UK/content/diskriminasi-rasial-dalam-sinema-as
Tidak ada komentar:
Posting Komentar