Jumat, Juni 14, 2019

Bagaimana masalah sosial orang Indian di Amerika?


   Masalah Sosial Orang Indian
a.      Masalah perluasan
Dengan berakhirnya Revolusi, Amerika Serikat sekali lagi harus menghadapi pertanyaan lama yang belum terjawab: masalah perluasan,dengan komplikasi masalah lahan, perdagangan bulu, suku Indian, pemukiman, dan pemerintahan lokal. Tergoda oleh lahan terkaya yang belum ditemukan di negara ini, para pionir membanjir ke Pegunungan Appalachian hingga ke baliknya. Menjelang 1775, ada banyak pos penjagaan yang tersebar di sepanjang sungai dengan puluhan ribu pemukim. Terpisah oleh deretan gunung dan berada ratusan kilometer dari pusat kekuasaan politik di Timur, para penduduk mendirikan pemerintahan mereka sendiri. Para pemukim dari semua negara bagian Tidewater merangsek maju ke lembah sungai yang subur, hutan kayu keras, dan hamparan padang gurun di pedalaman.
Menjelang 1790, populasi kawasan trans-Appalachian berkembang pesat menjadi 120.000 orang. Sebelum perang, beberapa koloni telah mengklaim lahan yang sangat luas dan sering kali tumpang tindih hingga ke daerah jauh ke balik pegunungan Appalachian. Bagi orang yang tidak memiliki klaim semacam itu, harta kawasan kaya ini terlihat dibagi secara tidak adil. Oleh karena itu Maryland menyuarakan keinginan kelompok tersebut dengan memperkenalkan resolusi agar lahan di daerah barat dianggap sebagai milik umum yang akan dibagikan oleh Kongres kepada pemerintahan yang bebas dan merdeka. Ide ini tidak diterima dengan antusias. Meski demikian, pada 1780 New York membuka jalan ketika menyerahkan seluruh lahan yang telah diklaimnya. Pada 1784, Virginia, pemilik klaim paling besar, membebaskan semua tanah di utara Sungai Ohio. Negara bagian lainnya menyerahkan klaim mereka, dan jelas Kongres akan memiliki seluruh lahan di utara Sungai Ohio dan barat Pegunungan Allegheny. Kepemilikan publik jutaan hektar lahan ini merupakan bukti paling terlihat akan masih adanya nasionalisme dan persatuan dan menjadi substansi gagasan kedaulatan nasional.
Pada saat yang sama, kawasan luas ini merupakan masalah yang membutuhkan solusi. Kongres Konfederasi mengukuhkan sistem pemerintahan otonomi terbatas bagi Northwest Territory nasional baru ini. Ordinansi Northwest 1787 awalnya menyediakan organisasi berupa distrik tunggal yang dipimpin gubernur dan para hakim yang ditunjuk oleh Kongres.
Ketika wilayah ini memiliki penduduk 5.000 pria bebas yang sudah punya hak suara, kawasan ini mendapatkan hak atas dewan legislatif dua mkamar, yang dengan sendirinya akan memilih dewan yang lebih rendah. Selain itu, bisa saja pada saat itu mereka mengirim seorang delegasi tanpa hak suara ke Kongres. Tiga hingga lima negara bagian akan dibentuk seiring kemapanan kawasan itu. Kapan pun salah satu negara bagian memiliki 60.000 penduduk bebas, negara bagianitu akan diakui oleh Perserikatan “memiliki posisi setara dengan negara bagian asli dalam segala hal.” Ordinansi itu menjamin hak dan kebebasan sipil, mendorong pendidikan, dan melarang perbudakan atau pun segala bentuk hamba kontrak. Kebijakan baru itu menegasikan konsep lekang bahwa negara koloni ada demi keuntungan negara induk, tunduk secara politik dan dihuni kalangan yang lebih rendah. Sebaliknya, kebijakan ini mengukuhkan prinsip bahwa koloni (“wilayah”) merupakan perpanjangan tangan negara dan berhak, bukan sebagai hak istimewa melainkan hak biasa, menerima segala manfaat kesetaraan.
                Pada awal abad ke-19, figur paling menonjol yang terkait dengan suatu konflik ialah Andrew Jackson, “orang Barat” pertama yang duduk di Gedung Putih. Di tengah-tengah Perang 1812, Jackson, yang pada saat itu memimpin kekuatan militer Tennessee, dikirim ke Alabama selatan, tempat dia dengan kejam memadamkan pemberontakan orang Indian Creek. Suku Indian Creek tak lama kemudian menyerahkan dua pertiga wilayahnya kepada merika Serikat. Jackson kemudian mengusir sekawanan Indian Seminol dari daerah suaka mereka di Florida yang dimiliki bangsa Spanyol. Pada 1820-an, sekretaris perang Presiden Monroe, John C. Calhoun, mengusulkan kebijakan mengusir suku Indian yang masih tinggal di daerah Barat Daya lama dan memindahkan mereka jauh dari Mississippi. Jackson melanjutkan kebijakan ini saat menjabat sebagai presiden.
            Seperti juga di Timur, perluasan kepada dataran-dataran dan pegunungan oleh para penambang, peternak dan para penetap membawa pertikaian yang meningkat dengan para suku asli di wilayah Barat. Banyak suku asli Amerika – dari suku Utes di Great Basin sampai ke suku Nez Perces di Idaho – berperang melawan orang kulit putih sesekali waktu. Namun suku Sioux di dataran Utara dan Apache di barat daya yang memberikan perlawanan paling signifikan terhadap kemajuan perbatasan. Dipimpin oleh pemimpin-pemimpin cerdik seperti Red Cloud dan Crazy Horse, suku Sioux khususnya, sangat mahir pada pertempuran cepat di atas kuda. Para Apache juga sama mahirnya dan sangat sulit ditangkap, bertempur pada medan tempur mereka di padang-padang gurun dan lembah-lembah.
            Pertikaian dengan para Indian dataran semakin memburuk setelah kejadian membuat Dakota (bagian dari negara suku Sioux), yang mengumumkan perang melawan pemerintahan Amerika Serikat karena keluhan yang tidak kunjung ditanggapi, membunuh lima penduduk kulit putih. Pemberontakan dan peperangan terus berlanjut selama Perang Saudara. Pada 1876 perang besar terakhir suku Sioux meletus, ketika perebutan emas di Dakota memasuki wilayah Black Hills. Pasukan tentara seharusnya menjaga agar para penambang tidak memasuki daerah berburu suku Sioux, namun dengan ogah-ogahan melindungi tanah suku Sioux. Namun ketika mereka diperintahkan untuk bertindak atas sekelompok suku Sioux yang berburu memasuki sedikit daerah kekuasaan mereka, mereka bergerak dengan sangat cepat dan ganas.
            Pada 1876, setelah beberapa pertempuran kecil, Kolonel George Custer, dengan sepasukan kecil pasukan pejalan kakinya bertemu dengan pasukan besar suku Sioux dan para sekutunya di Sungai Little Bighorn. Custer dan pasukannya dihancurkan total. Namun, perlawanan para suku asli Amerika tidak lama kemudian berhasil ditekan. Kemudian, pada 1890, ritual tarian hantu di penampungan Sioux bagian utara di Wounded Knee, Dakota Selatan, berujung pada pemberontakan dan pertempuran akhir yang tragis yang membawa kematian kepada hampir 300 pria, wanita, dan anak-anak Sioux. Jauh sebelum ini, kehidupan para Indian dataran telah dihancurkan oleh populasi orang kulit putih yang pertumbuhan dan perubahan berkembang, kedatangan perusahaan kereta api dan pembantaian banteng-banteng, hampir dipunahkan dalam satu dekade setelah 1870 oleh perburuan liar para pendatang.
Lembaga yang membantu dalam pemecahan masalah Indian ini adalah:
ü  Tahun 1994 didirikan National Congressof American Indians yang merupakan organisasi nasional bagi kaum Indian yang memperjuangkan hak hak kaum Indian di mata hukum Amerika Serikat. Sejak adanya organisasi ini, mulailah hak hak orang Indian dikembalikan sedikit demi sedikit. Namun demikian, pemerintah Amerika Serikat masih  berusaha untuk membuat pembatasan-pembatasan. Di tahun 1953 dikeluarkan kebijakan Termination Policy, yang menghentikan bantuan bagi beberapa suku Indian tertentu. Berkat tantangan keras dari warga Indian, kebijakan ini akhirnya dibatalkan.
Faktor organisasi masih sangat kurang disana. Salah satu organisasi orang Indian yang paling maju adalah
ü  Zapatista dibentuk tahun 1994, sebuah kelompok bersenjata pribumi Meksiko revolusioner berbasis di Chiapas di Mexico dari suku Mayan, Indian Amerika. Zapatista mengangkat senjata bukan untuk merebut kekuasaan, tapi untuk menciptakan sebuah ruang demokratis dimana pertentangan antar pandangan politik yang berbeda-beda bisa dibicarakan. Mereka ingin menunjukan kepada dunia bahwa cara lain untuk berpolitik itu sungguh ada, yang salah satunya bisa dilihat dari praktik kehidupan swadaya masyarakat adat.
            Perang Apache di barat daya terus berlangsung sampai pada 1886, pemimpin terakhir mereka, Geronimo, tertangkap. Kebijakan pemerintah sejak adminitrasi Monroe sebenarnya telah berfokus pada pemindahan para suku asli keluar jangkauan para pendatang kulit putih. Namun dengan tidak terhindarkan, kawasan perlindungan para Indian menjadi semakin kecil dan semakin padat. Beberapa warga Amerika mulai memprotes perlakuan pemerintah terhadap suku Indian. Helen Hunt Jackson, sebagai contohnya, menulis buku berjudul A Century of Dishonor (1881), yang mendramatisir kemalangan mereka dan membuka hati nurani negeri itu.
            Pada tahun 1934 pemerintah mengesahkan Indian Reorganization Act yang menghentikan semua bentuk pengusiran orang Indian dari tanahnya. Namun orang Indian tetap diberi tempat yang disebut Reservation Area yang prakteknya mengasingkan orang Indian.
            Pada tahun 1971, dikeluarkan Alaska Native Claims Settlement  Act yang mengatur pengembalian hak tanah pada kaum Indian Alaska. Tahun 1972 presiden Nixon mengeluarkan perintah pengembalian Mount Adams kepada suku Indian Yakima di Washington DC. Tahun 1980 pemerintah membayar ganti rugi sebesar 105 juta dollar pada suku Sioux untuk tanah yang dirampas pada tahun 1877. Suku Sioux menolak ganti rugi yang hanya berupa uang. Mereka akhirnya memenangkan pengembalian Blade Hill di South Dakota. Barulah di tahun 1990 tampak perbaikan tingkat kesejahteraan yang mencolok di kalangan kaum Indian.


Daftar Pustaka




Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Nasionalisme Arab