Jumat, Juni 14, 2019

Bagaimana masalah sosial orang Negro di Amerika?

Masalah Sosial Orang Negro Di Amerika
a.      Perbudakan
Perbudakan di Amerika Serikat berlangsung secara legal hingga diambilnya Amandemen Konstitusi Amerika Serikat ke-13 tahun 1865. Perbudakan sudah dimulai sejak kolonisasi Britania di Virginia tahun 1607, meskipun budak Afrika sudah dibawa ke Florida Spanyol pada tahun 1560-an. Kebanyakan orang yang menjadi budak berkulit hitam dan dimiliki orang yang berkulit putih, meskipun beberapa penduduk asli dan orang berkulit hitam juga memiliki budak. Terdapat pula budak berkulit putih, namun jumlahnya sedikit. Mayoritas pemilik budak berada di Amerika Serikat Selatan, dimana kebanyakan dijadikan "mesin" untuk pertanian.
b.      Gerakan Hak Asasi
Pada 1873 Mahkamah Agung menemukan bahwa amandemen ke-14 (hak-hak kewarganegaraan tidak boleh dikurangi) tidak memberikan hak istimewa baru atau kekebalan yang dapat melindungi kaum Afrika-Amerika terhadap hukumhukum negara bagian. Pada 1883, lebih lanjut lagi, ditentukan bahwa amandemen ke-14 tidak mencegah individu untuk mempraktekkan diskriminasi, tidak seperti negara bagian. Dan dalam kasus Plessy melawan Ferguson (1896), Mahkamah menemukan bahwa “pemisahan tapi setara” dalam fasilitas-fasilitas publik bagi kaum kulit hitam, seperti di kereta dan restoran, tidak melanggar hak-hak mereka. Dengan cepat prinsip pemisahan berdasarkan ras ini meluas ke semua bidang kehidupan di Selatan, dari kereta api ke restoran, hotel, rumah sakit dan sekolah. Dan lagi, semua bidang kehidupan yang tidak dipisahkan oleh hukum negara bagian, dipisahkan oleh kebiasaan dan budaya.
Selanjutnya diikuti dengan pembatasan hak untuk memilih. Peristiwa pembunuhan besar-besaran yang dilakukan secara berkala oleh para mafia menegaskan keinginan daerah itu untuk menekan populasi orang kulit hitam. Diperhadapkan dengan diskriminasi yang semakin menyebar, banyak kaum Afrika-Amerika mengikuti seorang tokoh bernama Booker T. Washington, yang menasehati mereka untuk memusatkan perhatian kepada tujuan-tujuan ekonomi sederhana dan untuk menerima diskriminasi sosial sementara. Yang lainnya, dipimpin oleh seorang tokoh cendikia Afrika-Amerika, W.E.B DuBois, mencoba menentang diskriminasi melalui tindakan politik. Tapi dengan kedua partai besar tidak tertarik dengan masalah ini dan teori ilmu pengetahuan saat itu yang umumnya menerima kelemahan orang kulit hitam, seruan untuk keadilan rasial tidak mendapat banyak dukungan.
Kaum Afrika-Amerika menjadi semakin resah tak sabar pada era pasca perang. Selama perang mereka menantang diskriminasi dalam angkatan bersenjata dan angkatan kerja Amerika dan berhasil mendapatkannya, meski secara terbatas. Jutaan kaum Afrika- Amerika meninggalkan lahan pertanian di Selatan menuju perkotaan di Utara, tempat mereka berharap dapat menemukan pekerjaan yang lebih baik. Mereka malah mendapati kota yang kumuh dan padat. Pada saat itu, banyak veteran perang kaum Afrika- Amerika yang pulang dari medan perang berniat menolak kewarganegaraan kelas dua. Jackie Robinson mendramatisasi pertanyaan perbedaan ras pada 1947 ketika dia meninggalkan jajaran pemain bisbol kulit berwarna dan mulai bermain di liga utama. Sebagai anggota tim Brooklyn Dodgers, ia sering menghadapi masalah dengan lawan main, juga kawan satu timnya. Namun permainan luar biasa pada awal musim membuat dirinya bisa diterima dan memudahkan jalan pemain Afrika-Amerika lainnya, yang kini meninggalkan liga Negro yang membatasi gerak mereka.
Pejabat pemerintahan dan banyak rakyat Amerika lain, menemukan kaitan masalah perbedaan ras dengan politik Perang Dingin. Sebagai pemimpin dunia yang merdeka, Amerika berjuang mendapat dukungan kawasan Afrika dan Asia. Diskriminasi dalam negeri Amerika diselimuti perjuangan mendapatkan sekutu dan dukungan dari belahan dunia lain. Harry Truman mendukung gerakan hak asasi itu. Secara pribadi ia percaya pada persamaan secara politik, walau bukan persamaan secara sosial dan mengakui semakin pentingnya suara pemilih kaum Afrika Amerika di kota besar. Ketika hal itu diumumkan pada 1946 dan terjadi serangkaian kejadian pembunuhan dan gerakan kekejaman anti-kulit hitam di Selatan,
Truman menunjuk komisi hak asasi manusia untuk menyelidiki masalah diskriminasi ini. Komisi itu menghasilkan laporan berjudul To Secure These Rights (Menyelamatkan Hak-hak Ini) yang diterbitkan setahun kemudian, mendokumentasikan status warga kelas dua kaum Afrika Amerika dalam kehidupan di Amerika dan merekomendasikan sejumlah pertimbangan bagi pemerintahan federal untuk menjamin hak bagi seluruh rakyat. Truman menanggapinya dengan mengirim 10 poin program bab 12: Ameri ka pasca peran g hak asasi ke Kongres. Wakil Partai Demokrat dari Selatan yang duduk di Kongres berhasil memblokir implementasi program tersebut. Sejumlah pihak yang paling marah, dipimpin Gubernur South Carolina Storm Thurmond, membentuk Partai Hak Negara Bagian untuk menentang presiden Truman pada 1948.
Asosiasi Nasional untuk Kemajuan Warga Kulit Berwarna (National Association for the Advancement of Colored People—NAACP) memimpin upaya membatalkan doktrin pengadilan di Mahkamah Agung dengan kasus Plessy v. Ferguson pada 1896, bahwa segregasi mahasiswa kaum Afrika Amerika dan kulit putih sesuai konstitusi jika fasilitasnya “terpisah namun setara.” Keputusan persidangan ini selama beberapa dekade digunakan untuk membenarkan segregasi tegas dalam segala segi kehidupan di Selatan, tempat fasilitas umum sangat jarang, jika memang ada, setara. K aum Afrika-Amerika berhasil mencapai tujuan mereka dengan pembatalan keputusan kasus Plessy pada 1954 ketika Mahkamah Agung—dipimpin oleh jaksa yang ditunjuk oleh Eisenhower, Jaksa Agung Earl Warren—mengumumkan keputusan kasus Brown v. Board of Education.
Persidangan mengumumkan, atas persetujuan seluruh pihak, bahwa “pada dasarnya fasilitas yang terpisah tidak sesuai dengan persamaan hak” dan mengeluarkan pernyataan bahwa doktrin “terpisah tapi sama” tak berlaku lagi di sekolah negeri. Setahun kemudian, MA mendesak dewan sekolah setempat “segera” mengimplementasikan keputusan MA. Walaupun bersimpati terhadap kebutuhan negara bagian di Selatan manakala menghadapi transisi besar, Eisenhower tetap memastikan agar hukum tetap ditegakkan di tengah pertentangan besar-besaran di sebagian besar wilayah Selatan. Eisenhower menghadapi krisis besar di Little Rock, Arkansas, pada 1957, ketika Gubernur Orval Faubus berusaha menghalangi rencana penghapusan segregasi dengan menerima pendaftaran sepuluh siswa berkulit hitam ke Central High School yang tadinya merupakan sekolah khusus masyarakat berkulit putih.
Setelah bernegosiasi tanpa hasil, presiden mengirim pasukan pemerintahan federal ke Little Rock untuk menerapkan rencana tersebut. Gubernur Faubus menanggapi dengan memerintahkan agar semua SMU di Little Rock ditutup selama tahun ajaran 1958-59. Akan tetapi persidangan federal memerintahkan untuk membuka kembali semua sekolah pada tahun ajaran berikutnya. Mereka melakukannya dalam suasana tegang terhadap sejumlah kecil siswa kaum Afrika Amerika. Oleh karena itu, proses penghapusan segregasi sekolah berjalan dengan lamban dan tak menentu di hampir seluruh wilayah Selatan.
Abraham Lincoln menentang perbudakan, perbudakan pun dihapuskan pada 1863 melalui status hukum. Sebagai penentang perbudakan, Dia mengeluarkan dekrit yang memerintahkan penghapusan perbudakan melalui Proclamation of Emancipation pada tahun 1863.
Ø  Yang pertama dikeluarkan pada tanggal 22 September 1862, yang mengumumkan pembebasan budak yang berada pada Negara Konfederasi Amerika yang belum bergabung kembali kepada Amerika Serikat pada tanggal 1 januari 1863.
Ø  Yang ke dua dikeluarkan pada tanggal 1 januari 1863, yang menyebutkan secara spesifik di negara bagian mana saja pembebasan budak berlaku.
Penggantinya, Andrew Johnson, juga mendambakan persatuan kembali orang kulit putih, tapi gagal mempertahankan hak para budak yang baru dibebaskan hingga mencapai kurang lebih 4 juta budak berhasil dibebaskan pada tahun 1865.
Meski demikian, perbedaan ras masih terasa hingga akhirnya sekitar awal dan pertengahan abad ke-20, rakyat kulit hitam mulai bangkit melawan diskriminasi terhadap suku mereka.
Terobosan lain dalam gerakan hak asasi terjadi pada 1955 di Montgomery, Alabama. Rosa Parks, wanita kaum Afrika Amerikaberusia 42 tahun yang berprofesi penjahit sekaligus sekretaris NAACP, duduk di bagian depan bis, di bagian yang sesuai kebiasaan dan sesuai hukum, disediakan untuk orang kulit putih. Dia menolak ketika disuruh pindah ke belakang. Polisi datang dan menangkapnya karena telah melanggar statuta segregasi.
Pemimpin kaum Afrika Amerika, yang telah menunggu-nunggu kasus seperti ini, mengorganisasi pemboikotan sistem bis. Martin Luther King Jr., pendeta muda dari gereja Baptist tempat bekumpulnya kaum Afrika Amerika, menjadi jubir dalam melakukan protes.

Sepanjang hidupnya, Dr. King tidak pernah berhenti untuk menyuarakan keadilan dan kesetaraan hak-hak manusia. Ia melakukan aksi menentang diskriminasi terhadap orang-orang kulit hitam.
Dengan kepemimpinannya yang kuat, dibarengi juga dengan kemampuan berpidato yang belum pernah ada sebelumnya, ia memberi kekuatan bagi banyak warga Negro yang selama bertahun-tahun menerima ketidakadilan. Pidatonya dengan judul "Saya Memiliki Impian" pada pawai berbarisnya ke Washington, DC (28 Agustus 1963) membuatnya semakin terkenal.
Upayanya ini membuka jalan bagi penerapan hukum baru yang jauh lebih adil. Lalu, berkat usaha kerasnya yang tentu saja didukung oleh begitu banyak warga kulit hitam lain, Perjanjian Birmingham akhirnya disepakati pada 10 Mei 1963. Perjanjian tersebut mengakhiri praktik pengucilan (segregasi) yang selama ini diberlakukan bagi kaum Negro di toko-toko, sekolah-sekolah, dan restoran-restoran.
Lembaga yang mendukung perjuangan Martin Luther King Jr adalah:
1)      Montgomery Improvement Association merupakan organisasi yang dibentuk oleh warga kulit hitam untuk mengorganisir pemboikotan menyusul penahanan Rosa Parks.
2)      Mimbar gereja yang digunakan oleh Martin Luter untuk untuk menyuarakan keadilan dan kesetaraan hak-hak manusia. 
3)      Southern Christian Leadership Conference merupakan organisasi yang dibentuk oleh Dr. King pada tahun 1957 yang bertujuan mempersiapkan para pemimpin baru bagi gerakan yang kini tengah berkembang itu. Ia sendiri terpilih menjadi presiden organisasi tersebut.
Dalam pidatonya I Have a Dream ia menyuarakan tentang “Akan datang suatu masa.” serunya, “ketika orang jenuh... ditendang oleh kebrutalan kaki penindas.” Martin Luther King Jr. ditangkap, dan akan bolak-balik ditangkap; ada bom yang merusak bagian depan rumahnya. Ia ditembak mati pada 4 april 1968 saat ia di balkon Lorraine Motel, oleh pembunuh misterius yaitu James Earl Ray, tepat di bagian tenggorokan. Ia dinyatakan meninggal di Rumah Sakit St. Joseph pukul 19:05.
Walau Amandemen ke-15 UUD Amerika menjamin hak untuk memilih, banyak negara bagian mencari cara untuk melanggarnya. Negara bagian akan mengadakan pajak suara (“kepala”) atau tes buta huruf—biasanya lebih sering diterapkan untuk kaum Afrika Amerika— untuk mencegah Kaum Afrika Amerika yang miskin berpendidikan rendah supaya tidak bisa memberi suara dalam pemilu. Eisenhower, bekerja sama dengan pemimpin mayoritas Senat, Lyndon B. Johnson, menyatakan dukungannya terhadap usaha konstitusional untuk menjamin hak pilih.
UU Hak Asasi pada 1957, tindakan pertama yang diambil dalam 82 tahun, menandakan satu langkah maju, karena hal itu memberi wewenang campur tangan pemerintahan federal dalam kasus jika kaum Afrika Amerika tidak diberi kesempatan untuk memilih. Tapi masih ada lubang di sana-sini, jadi para aktivis mendorong UU Hak Asasi pada 1960, yang memberikan penalti yang lebih besar jika menghalangi pemberian suara, namun belum memberi wewenang kepada pemerintah federal untuk mendaftar pemilih dari kaum Afrika Amerika. Mengandalkan usaha kaum Afrika-Amerika itu sendiri, gerakan hak asasi mendapat momentum pada era pascaperang. Bergerilya melalui Mahkamah Agung dan Kongres, pendukung hak asasi telah menciptakan landasan bagi “revolusi” yang drastis namun damai dalam hal hubungan antar ras di Amerika pada era 1960-an.
Perjuangan Masyarakat Afrika- Amerika demi kesetaraan mencapai puncaknya pada pertengahan 1960-an. Setelah kemenangan progresif pada 1950-an, masyarakat Afrika- Amerika bahkan menjadi lebih percaya dengan melakukan aksi langsung tanpa kekerasan. seperti Southern Christian Leadership Conference (SCLC), terdiri dari para pemuka agama Masyarakat Afrika-Amerika dan Student Nonviolent Coordinating Committee (SNCC), yang terdiri dari aktivis yang lebih muda, mencari reformasi melalui konfrontasi damai. Pada 1960 mahasiswa Afrika-Amerika duduk di tempat makan siang yang memang terpisahkan di Woolworth, North Carolina. Mereka menolak pergi. Perbuatan ini menarik perhatian media dan berujung pada demonstrasi serupa di selatan. Tahun berikutnya, pekerja Hak Asasi mengorganisasi “ freedom rides” atau perjalanan kebebasan. Di sini orang Afrika-Amerika dan orang kulit putih menaiki bis bergerak ke selatan menuju terminal yang juga terpisah, tempat konfrontasi bisa menarik perhatian media dan mengarah kepada perubahan.
Mereka juga mengorganisasi sekumpulan besar massa, yang terbesar adalah “March on Washington” pada 1963. Lebih dari 200.000 orang berkumpul di ibukota Negara untuk mendemonstrasikan komitmen mereka terhadap kesetaraan untuk semua orang. Malcolm X, aktivis yang fasih berbicara, juga merupakan sosok yang paling menonjol dalam perdebatan masalah pemisahan masyarakat Afrika-Amerika dari ras kulit putih. Stokely Carmichael, pemimpin pelajar, juga terbebas dari ilusi serupa dengan adanya gagasan tanpa kekerasan dan kerjasama antarras. Ia mempopulerkan slogan “kekuatan hitam” (black power). Hal ini yang harus dicapai dengan “apa pun yang dibutuhkan.” seperti yang diucapkan Malcolm X. Kekerasan diiringi panggilan militan untuk bereformasi. Kerusuhan pecah di beberapa kota besar pada 1966 dan 1967. Pada musim semi 1968, Martin Luther King Jr. ditembak. Beberapa bulan kemudian, Senator Robert Kennedy, juru bicara pihak yang dirugikan dan lawan dari Perang Vietnam, juga saudara dari presiden yang terbunuh, hidupnya berakhir dengan cara yang sama.
Banyak hal dari dua pembunuhan ini yang menandai akhir dari era tidak bersalah dan idealisme. Militan yang berkembang di sisi kiri, dirangkai dengan reaksi keras konservatif yang tidak bisa dihindarkan, mengakibatkan keretakan dalam jiwa bangsa yang membutuhkan waktu tahunan untuk sembuh. Bagaimanapun juga, hingga saat itu tiba, gerakan Hak Asasi yang didukung oleh keputusan pengadilan, pengesahan kongresional dan peraturan administratif federal tidak bisa dijalin ke dalam kain kehidupan Amerika. Isu besarnya adalah tentang implementasi kesetaraan dan akses, bukan tentang legalitas pemisahan atau penghilangan hak legal. 




Daftar Pustaka

1.      Sowell Thomas. 1989. Mozaik Amerika: Sejarah Etnis Sebuah Bangsa. Jakarta. Pustaka Sinar Harapan.
2.      Mann Arthur. 1990. Yang Satu Dan Yang Banyak: Refleksi Tentang Identitas Amerika. Yogyakarta. Gadjah Mada University Press.
3.      Www. Google.com
http://indonesian.irib.ir/hidden-1//asset_publisher/m7UK/content/diskriminasi-rasial-dalam-sinema-as

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Nasionalisme Arab