Masalah Sosial Orang Negro Di
Amerika
a.
Perbudakan
Perbudakan di Amerika Serikat berlangsung secara legal hingga diambilnya
Amandemen Konstitusi Amerika Serikat ke-13 tahun 1865. Perbudakan sudah dimulai
sejak kolonisasi Britania di Virginia tahun 1607, meskipun budak Afrika sudah
dibawa ke Florida Spanyol pada tahun 1560-an. Kebanyakan orang yang menjadi
budak berkulit hitam dan dimiliki orang yang berkulit putih, meskipun beberapa
penduduk asli dan orang berkulit hitam juga memiliki budak. Terdapat pula budak
berkulit putih, namun jumlahnya sedikit. Mayoritas pemilik budak berada di
Amerika Serikat Selatan, dimana kebanyakan dijadikan "mesin" untuk
pertanian.
b.
Gerakan
Hak Asasi
Pada
1873 Mahkamah Agung menemukan bahwa amandemen ke-14 (hak-hak kewarganegaraan
tidak boleh dikurangi) tidak memberikan hak istimewa baru atau kekebalan yang
dapat melindungi kaum Afrika-Amerika terhadap hukumhukum negara bagian. Pada
1883, lebih lanjut lagi, ditentukan bahwa amandemen ke-14 tidak mencegah
individu untuk mempraktekkan diskriminasi, tidak seperti negara bagian. Dan dalam
kasus Plessy melawan Ferguson (1896), Mahkamah menemukan bahwa “pemisahan tapi
setara” dalam fasilitas-fasilitas publik bagi kaum kulit hitam, seperti di
kereta dan restoran, tidak melanggar hak-hak mereka. Dengan cepat prinsip
pemisahan berdasarkan ras ini meluas ke semua bidang kehidupan di Selatan, dari
kereta api ke restoran, hotel, rumah sakit dan sekolah. Dan lagi, semua bidang
kehidupan yang tidak dipisahkan oleh hukum negara bagian, dipisahkan oleh
kebiasaan dan budaya.
Selanjutnya
diikuti dengan pembatasan hak untuk memilih. Peristiwa pembunuhan besar-besaran
yang dilakukan secara berkala oleh para mafia menegaskan keinginan daerah itu
untuk menekan populasi orang kulit hitam. Diperhadapkan dengan diskriminasi
yang semakin menyebar, banyak kaum Afrika-Amerika mengikuti seorang tokoh
bernama Booker T. Washington, yang menasehati mereka untuk memusatkan perhatian
kepada tujuan-tujuan ekonomi sederhana dan untuk menerima diskriminasi sosial
sementara. Yang lainnya,
dipimpin oleh seorang tokoh cendikia Afrika-Amerika, W.E.B DuBois, mencoba
menentang diskriminasi melalui tindakan politik. Tapi dengan kedua partai besar
tidak tertarik dengan masalah ini dan teori ilmu pengetahuan saat itu yang
umumnya menerima kelemahan orang kulit hitam, seruan untuk keadilan rasial
tidak mendapat banyak dukungan.
Kaum Afrika-Amerika menjadi semakin resah tak sabar pada era pasca perang. Selama
perang mereka menantang diskriminasi dalam angkatan bersenjata dan angkatan
kerja Amerika dan berhasil mendapatkannya, meski secara terbatas. Jutaan kaum
Afrika- Amerika meninggalkan lahan pertanian di Selatan menuju perkotaan di
Utara, tempat mereka berharap dapat menemukan pekerjaan yang lebih baik. Mereka
malah mendapati kota yang kumuh dan padat. Pada saat itu, banyak veteran perang
kaum Afrika- Amerika yang pulang dari medan perang berniat menolak
kewarganegaraan kelas dua. Jackie Robinson mendramatisasi pertanyaan perbedaan
ras pada 1947 ketika dia meninggalkan jajaran pemain bisbol kulit berwarna dan
mulai bermain di liga utama. Sebagai anggota tim Brooklyn Dodgers, ia sering
menghadapi masalah dengan lawan main, juga kawan satu timnya. Namun permainan
luar biasa pada awal musim membuat dirinya bisa diterima dan memudahkan jalan
pemain Afrika-Amerika lainnya, yang kini meninggalkan liga Negro yang membatasi
gerak mereka.
Pejabat pemerintahan dan banyak rakyat Amerika lain,
menemukan kaitan masalah perbedaan ras dengan politik Perang Dingin. Sebagai
pemimpin dunia yang merdeka, Amerika berjuang mendapat dukungan kawasan Afrika
dan Asia. Diskriminasi dalam negeri Amerika diselimuti perjuangan mendapatkan
sekutu dan dukungan dari belahan dunia lain. Harry Truman mendukung gerakan hak
asasi itu. Secara pribadi ia percaya pada persamaan secara politik, walau bukan
persamaan secara sosial dan mengakui semakin pentingnya suara pemilih kaum
Afrika Amerika di kota besar. Ketika hal itu diumumkan pada 1946 dan terjadi
serangkaian kejadian pembunuhan dan gerakan kekejaman anti-kulit hitam di
Selatan,
Truman menunjuk komisi hak asasi manusia untuk
menyelidiki masalah diskriminasi ini. Komisi itu menghasilkan laporan berjudul
To Secure These Rights (Menyelamatkan Hak-hak
Ini) yang diterbitkan setahun kemudian, mendokumentasikan
status warga kelas dua kaum Afrika Amerika dalam kehidupan di Amerika dan
merekomendasikan sejumlah pertimbangan bagi pemerintahan federal untuk menjamin
hak bagi seluruh rakyat. Truman menanggapinya dengan mengirim 10 poin program
bab 12: Ameri ka pasca peran g hak asasi ke Kongres. Wakil Partai Demokrat dari
Selatan yang duduk di Kongres berhasil memblokir implementasi program tersebut.
Sejumlah
pihak yang paling marah, dipimpin Gubernur South Carolina Storm Thurmond,
membentuk Partai Hak Negara Bagian untuk menentang presiden Truman pada 1948.
Asosiasi
Nasional untuk Kemajuan Warga Kulit Berwarna (National Association for the
Advancement of Colored People—NAACP) memimpin upaya membatalkan doktrin
pengadilan di Mahkamah Agung dengan kasus Plessy v. Ferguson pada 1896, bahwa
segregasi mahasiswa kaum Afrika Amerika dan kulit putih sesuai konstitusi jika
fasilitasnya “terpisah namun setara.” Keputusan persidangan ini selama beberapa
dekade digunakan untuk membenarkan segregasi tegas dalam segala segi kehidupan
di Selatan, tempat fasilitas umum sangat jarang, jika memang ada, setara. K aum
Afrika-Amerika berhasil mencapai tujuan mereka dengan pembatalan keputusan
kasus Plessy pada 1954 ketika Mahkamah Agung—dipimpin oleh jaksa yang ditunjuk
oleh Eisenhower, Jaksa Agung Earl Warren—mengumumkan keputusan kasus Brown v. Board
of Education.
Persidangan
mengumumkan, atas persetujuan seluruh pihak, bahwa “pada dasarnya fasilitas
yang terpisah tidak sesuai dengan persamaan hak” dan mengeluarkan pernyataan
bahwa doktrin “terpisah tapi sama” tak berlaku lagi di sekolah negeri. Setahun kemudian, MA mendesak dewan sekolah setempat
“segera” mengimplementasikan keputusan MA. Walaupun bersimpati terhadap
kebutuhan negara bagian di Selatan manakala menghadapi transisi besar,
Eisenhower tetap memastikan agar hukum tetap ditegakkan di tengah pertentangan
besar-besaran di sebagian besar wilayah Selatan. Eisenhower menghadapi krisis
besar di Little Rock, Arkansas, pada 1957, ketika Gubernur Orval Faubus
berusaha menghalangi rencana penghapusan segregasi dengan menerima pendaftaran
sepuluh siswa berkulit hitam ke Central High School yang tadinya merupakan
sekolah khusus masyarakat berkulit putih.
Setelah
bernegosiasi tanpa hasil, presiden mengirim pasukan pemerintahan federal ke
Little Rock untuk menerapkan rencana tersebut. Gubernur Faubus menanggapi
dengan memerintahkan agar semua SMU di Little Rock ditutup selama tahun ajaran
1958-59. Akan tetapi
persidangan federal memerintahkan untuk membuka kembali semua sekolah pada
tahun ajaran berikutnya. Mereka melakukannya dalam suasana tegang terhadap
sejumlah kecil siswa kaum Afrika Amerika. Oleh karena itu, proses penghapusan
segregasi sekolah berjalan dengan lamban dan tak menentu di hampir seluruh
wilayah Selatan.
Abraham Lincoln
menentang perbudakan, perbudakan pun
dihapuskan pada 1863 melalui
status hukum. Sebagai penentang perbudakan, Dia mengeluarkan dekrit
yang memerintahkan penghapusan perbudakan melalui Proclamation of Emancipation pada
tahun 1863.
Ø Yang
pertama dikeluarkan pada tanggal 22 September 1862, yang mengumumkan pembebasan
budak yang berada pada Negara
Konfederasi Amerika yang belum
bergabung kembali kepada Amerika Serikat pada tanggal 1 januari 1863.
Ø Yang
ke dua dikeluarkan pada tanggal 1 januari 1863, yang menyebutkan secara
spesifik di negara bagian mana saja pembebasan budak berlaku.
Penggantinya, Andrew Johnson, juga mendambakan persatuan kembali orang kulit
putih, tapi gagal mempertahankan hak para budak yang baru dibebaskan hingga
mencapai kurang lebih 4 juta budak berhasil dibebaskan pada tahun 1865.
Meski demikian,
perbedaan ras masih terasa hingga akhirnya sekitar awal dan pertengahan abad ke-20, rakyat kulit hitam mulai bangkit
melawan diskriminasi terhadap suku mereka.
Terobosan lain dalam gerakan hak asasi terjadi pada 1955 di Montgomery,
Alabama. Rosa Parks, wanita kaum Afrika Amerikaberusia 42 tahun yang berprofesi
penjahit sekaligus sekretaris NAACP, duduk di bagian depan bis, di bagian yang
sesuai kebiasaan dan sesuai hukum, disediakan untuk orang kulit putih. Dia
menolak ketika disuruh pindah ke belakang. Polisi datang dan menangkapnya
karena telah melanggar statuta segregasi.
Pemimpin kaum Afrika Amerika, yang telah
menunggu-nunggu kasus seperti ini, mengorganisasi pemboikotan sistem bis.
Martin Luther King Jr., pendeta muda dari gereja Baptist tempat bekumpulnya
kaum Afrika Amerika, menjadi jubir dalam melakukan protes.
Sepanjang hidupnya, Dr. King tidak pernah berhenti
untuk menyuarakan keadilan dan kesetaraan hak-hak manusia. Ia melakukan
aksi menentang diskriminasi terhadap orang-orang kulit hitam.
Dengan kepemimpinannya yang kuat, dibarengi juga
dengan kemampuan berpidato yang belum pernah ada sebelumnya, ia memberi
kekuatan bagi banyak warga Negro yang selama bertahun-tahun menerima
ketidakadilan. Pidatonya dengan judul "Saya Memiliki Impian"
pada pawai berbarisnya ke Washington, DC (28 Agustus 1963) membuatnya semakin
terkenal.
Upayanya ini membuka jalan bagi penerapan hukum baru
yang jauh lebih adil. Lalu, berkat usaha kerasnya yang tentu saja didukung oleh
begitu banyak warga kulit hitam lain, Perjanjian Birmingham akhirnya disepakati
pada 10 Mei 1963. Perjanjian tersebut mengakhiri praktik pengucilan (segregasi)
yang selama ini diberlakukan bagi kaum Negro di toko-toko, sekolah-sekolah, dan
restoran-restoran.
Lembaga
yang mendukung perjuangan Martin Luther King Jr adalah:
1) Montgomery
Improvement Association merupakan organisasi yang dibentuk oleh warga kulit
hitam untuk mengorganisir pemboikotan menyusul penahanan Rosa Parks.
2) Mimbar
gereja yang digunakan oleh Martin Luter untuk untuk
menyuarakan keadilan dan kesetaraan hak-hak manusia.
3) Southern
Christian Leadership Conference merupakan organisasi yang dibentuk oleh Dr.
King pada tahun 1957 yang bertujuan mempersiapkan para pemimpin baru bagi
gerakan yang kini tengah berkembang itu. Ia sendiri terpilih menjadi presiden
organisasi tersebut.
Dalam pidatonya I
Have a Dream ia menyuarakan tentang “Akan datang suatu masa.” serunya, “ketika
orang jenuh... ditendang oleh kebrutalan kaki penindas.” Martin Luther King Jr.
ditangkap, dan akan bolak-balik ditangkap; ada bom yang merusak bagian depan
rumahnya. Ia ditembak mati pada 4 april 1968 saat ia di balkon Lorraine Motel, oleh pembunuh misterius yaitu James Earl Ray,
tepat di bagian tenggorokan. Ia dinyatakan meninggal di Rumah Sakit St. Joseph
pukul 19:05.
Walau Amandemen
ke-15 UUD Amerika menjamin hak untuk memilih, banyak negara bagian mencari cara
untuk melanggarnya. Negara bagian akan mengadakan pajak suara (“kepala”) atau
tes buta huruf—biasanya lebih sering diterapkan untuk kaum Afrika Amerika—
untuk mencegah Kaum Afrika Amerika yang miskin berpendidikan rendah supaya
tidak bisa memberi suara dalam pemilu. Eisenhower, bekerja sama dengan pemimpin
mayoritas Senat, Lyndon B. Johnson, menyatakan dukungannya terhadap usaha
konstitusional untuk menjamin hak pilih.
UU Hak Asasi
pada 1957, tindakan pertama yang diambil dalam 82 tahun, menandakan satu
langkah maju, karena hal itu memberi wewenang campur tangan pemerintahan
federal dalam kasus jika kaum Afrika Amerika tidak diberi kesempatan untuk
memilih. Tapi masih ada lubang di sana-sini, jadi para aktivis mendorong UU Hak
Asasi pada 1960, yang memberikan penalti yang lebih besar jika menghalangi
pemberian suara, namun belum memberi wewenang kepada pemerintah federal untuk
mendaftar pemilih dari kaum Afrika Amerika. Mengandalkan usaha kaum Afrika-Amerika itu sendiri,
gerakan hak asasi mendapat momentum pada era pascaperang. Bergerilya melalui
Mahkamah Agung dan Kongres, pendukung hak asasi telah menciptakan landasan bagi
“revolusi” yang drastis namun damai dalam hal hubungan antar ras di Amerika
pada era 1960-an.
Perjuangan
Masyarakat Afrika- Amerika demi kesetaraan mencapai puncaknya pada pertengahan
1960-an. Setelah kemenangan progresif pada 1950-an, masyarakat Afrika- Amerika
bahkan menjadi lebih percaya dengan melakukan aksi langsung tanpa kekerasan.
seperti Southern Christian Leadership Conference (SCLC), terdiri dari para
pemuka agama Masyarakat Afrika-Amerika dan Student Nonviolent Coordinating
Committee (SNCC), yang terdiri dari aktivis yang lebih muda, mencari reformasi
melalui konfrontasi damai. Pada 1960 mahasiswa Afrika-Amerika duduk di tempat
makan siang yang memang terpisahkan di Woolworth, North Carolina. Mereka
menolak pergi. Perbuatan ini menarik perhatian media dan berujung pada
demonstrasi serupa di selatan. Tahun berikutnya, pekerja Hak Asasi
mengorganisasi “ freedom rides” atau perjalanan kebebasan. Di sini orang
Afrika-Amerika dan orang kulit putih menaiki bis bergerak ke selatan menuju
terminal yang juga terpisah, tempat konfrontasi bisa menarik perhatian media
dan mengarah kepada perubahan.
Mereka juga
mengorganisasi sekumpulan besar massa, yang terbesar adalah “March on
Washington” pada 1963. Lebih dari 200.000 orang berkumpul di ibukota Negara
untuk mendemonstrasikan komitmen mereka terhadap kesetaraan untuk semua orang.
Malcolm X, aktivis yang fasih berbicara, juga merupakan sosok yang paling
menonjol dalam perdebatan masalah pemisahan masyarakat Afrika-Amerika dari ras
kulit putih. Stokely Carmichael, pemimpin pelajar, juga terbebas dari ilusi
serupa dengan adanya gagasan tanpa kekerasan dan kerjasama antarras. Ia
mempopulerkan slogan “kekuatan hitam” (black power). Hal ini yang harus dicapai
dengan “apa pun yang dibutuhkan.” seperti yang diucapkan Malcolm X. Kekerasan
diiringi panggilan militan untuk bereformasi. Kerusuhan pecah di beberapa kota
besar pada 1966 dan 1967. Pada musim semi 1968, Martin Luther King Jr.
ditembak. Beberapa bulan kemudian, Senator Robert Kennedy, juru bicara pihak
yang dirugikan dan lawan dari Perang Vietnam, juga saudara dari presiden yang
terbunuh, hidupnya berakhir dengan cara yang sama.
Banyak hal dari
dua pembunuhan ini yang menandai akhir dari era tidak bersalah dan idealisme.
Militan yang berkembang di sisi kiri, dirangkai dengan reaksi keras konservatif
yang tidak bisa dihindarkan, mengakibatkan keretakan dalam jiwa bangsa yang
membutuhkan waktu tahunan untuk sembuh. Bagaimanapun juga, hingga saat itu
tiba, gerakan Hak Asasi yang didukung oleh keputusan pengadilan, pengesahan
kongresional dan peraturan administratif federal tidak bisa dijalin ke dalam
kain kehidupan Amerika. Isu besarnya adalah tentang implementasi kesetaraan dan
akses, bukan tentang legalitas pemisahan atau penghilangan hak legal.
Daftar Pustaka
1. Sowell
Thomas. 1989. Mozaik Amerika: Sejarah
Etnis Sebuah Bangsa. Jakarta. Pustaka Sinar Harapan.
2. Mann
Arthur. 1990. Yang Satu Dan Yang Banyak:
Refleksi Tentang Identitas Amerika. Yogyakarta. Gadjah Mada University
Press.
3. Www.
Google.com
http://indonesian.irib.ir/hidden-1//asset_publisher/m7UK/content/diskriminasi-rasial-dalam-sinema-as
Tidak ada komentar:
Posting Komentar