1.
Masalah
Sosial Orang Kulit Kuning
a)
Orang
Cina
Menjelang
tahun 1930, lebih lebih dari delapan juta orang Cina telah meninggalkan negeri
Cina untuk menetap diseluruh dunia. Orang Cina sendiri pertama datang ke
Amerika pada sekitar tahun 1848, dimana saat itu terjadi gold rush
di California. Orang Cina datang ke Amerika Serikat sebagai buruh kontrak
/ dengan uang yang dipinjam dari organisasi Amerika-Cina yang jadi pembimbing mereka
di Amerika Serikat. Kebanyakan dari para imigran Cina itu dikenal sebagai
pekerja keras, khususnya di bidang pertanian, pembuatan rel kereta api Central
Pasific yang melewati California dan Pegunungan Sierra menuju Utah, dan
pekerjaan-pekerjaan kasar lainnya yang tidak mau dikerjakan orang kulit putih.
Di
West Coast, para penambang datang dengan harapan dapat memperbaiki kehidupan
mereka. Sedangkan di Hawaii, mereka menanam beras dan gula sambil menunggu
kesempatan kerja di bidang pertambangan. Orang-orang Cina yang datang di
Amerika bekerja apa saja dan sangat ulet. Sebagian mereka bekerja di
pertambangan emas dan mineral yang lainnya. Sebagian lagi membangun jalan
kereta api yang rampung pada tahun 1869 dan sisanya bekerja di ladang, mengembang
biakkan anggrek, dan anggur. Ketika sistem perairan telah dibangun, maka mereka
juga mengembangkan industri perikanan.
Hal
ini menimbulkan penolakan, pembantaian politik, dan kekerasan sporadis.
Keterampilan dan kemampuan berorganisasi orang Cina membuat mereka banyak
membantu dinegara miskin, meskipun kekeayaan merreka membuat orang Cina menjadi
sasaran politik. Akibatnya, pemerintah negara-negara seperti itu banyak yang
menunjukkan sikap ambivalen terhadap mereka. Berbagai negara Amerika ada yang
membatasi, tetapi ada juga yang mendorong imigrasi orang Cina.
Orang
Cina yang bermigrasi ke Amerika Serikat sebelum Perang Dunia II hampir
seluruhnya berasal dari satu Provonsi Kwantung, di Cina Selatan. Daerah asal
mereka memang lebih terbatas, hanya berasal dari salah satu dari tujuh distrik
di Provinsi tersebut, Toishan. Imigran Cina yang datang ke Amerika Serikat
sesudah perang Dunia II sudah khas berbahasa Cina Mandarin menciptakan suatu
pembatas bahasa diantara mereka sendiri dan orang Amerika Cina yang sudah ada.
Banyak
orang Cina datang ke Amerika Serikat sebagai buruh kontrak atau dengan uang
yang dipinjam dari organisasi-organisasi Amerika-Cina yang melakukan peran
pembimbing bagi mereka di Amerika Serikat. Imigran Cina tidak mengenal bahasa
dan kebudayaan Amerika Serikat, buruh Cina sering bekerja dalam kelompok
dibawah bimbingan seseorang sesama bangsanya. Walaupun fisiknya lebih kecil
dibanding orang Amerika, orang Cina adalah pekerja keras dibidang pertanian,
pembuatan jalan kereta api, dan kerja fisik berat lainya. Mereka juga tenaga
murah dan hidup sangat sederhana, menabung dari jumlah penghasilan yang oleh
orang Amerika dianggap sangat sedikit. Namun sifat baik ini justru ditakuti dan
dibenci sebagai saingan oleh buruh kulit putih.
Imigran
Cina yang datang ke Amerika Serikat tidak disambut dengan baik dan sering
dengan kekerasan. mereka tampak lain, makan dengan cara lain, dan mempunya
kebiasaan yang sama sekali tidak dikenal oleh orang Amerika. Mereka dianggap
tidak mampu berasimilasi, baik secara biologis maupun kultural. Sebagai
saingan, mereka ditakuti karena bekerja lebih keras dan lebih lama dengan gaji
sedikit sehingga dapat menurunkan standar hidup buruh. Serikat buruh selama
banyak dasawarsa berupaya keras untik mengucilkan imigran Cina dan menghalangi
orang Cina bermukim di Amerika Serikat.
Pemerintah
Amerika mengeluarkan Chinese Exclusion Act tahun 1882:
1) Mengurangi
jumlah imigran Cina yang masuk ke Amerika.
2) Menghalangi mereka mendapat naturalisasi menjadi warga negara
Amerika Serikat yang berakibat mereka tidak bisa memiliki tanah dan masuk
pekerjaan.
Pelarangan adanya
migrasi dari Cina berubah setelah penyerangan Pearl Harbour oleh Jepang pada
Desember 1941. Pada tahun 1943 Chinese Exclusion Act dicabut setelah
Amerika Serikat dan Cina bersekutu menghadapi Jepang dalam Perang Dunia II.
Cina dan Amerika Serikat membentuk aliansi melawan Jepang.
Sehingga, saat perang masih berlangsung yaitu 1943, Chinese Exclusion Act direvisi
dan untuk pertama warga Cina diberikan hak untuk menjadi warga negara Amerika. The Immigration and Nationality
Act yang dibuat pada
tahun 1965 kemudian dijadikan hukum negara oleh Presiden Lyndon Johnson yang
membiarkan peningkatan jumlah imigrasi dari Asia.
Pada
tahun 1885, buruh Cina yang bertindak sebagai pencetus pemogokan dibantai
disuatu tambang batubara di Wiyoming. Mereka melakukan pemogokan karena yang
terbuka bagi mereka hanyalah pekerjaan paling kasar, paling kotor, dan paling
rendah. Kebanyak buruh membangun Jalan Kerata Api Central Pasific yang melewati
California dan pegunungan Sierra memasuki Utah untuk mengangkut bijih emas.
Orang Cina yang berusaha bekerja sebagai menambang emas secara bebas, dengan
paksa diusir oleh orang kulit putih dari seluruh perkemahan pertambangan di
Barat. Pada tahun 1885, penduduk Cina dalam satu komunitas California dipaksa
pergia karena ancaman pengeroyokan massa. Sekitar waktu yang sama,Seattle dan
Tacoma. Washington, mengusir penduduknya yang keturunan Cina. Kejadian serupa
juga terjadi di Vancouver dan Alaska.
Orang
kulit putih di Amerika Serikat senang melakukan gangguan yang disengaja seperti
mengolok-olok dan memotong kuncir panjang yang dimiliki orang Cina, menggiring
imigran Cina sambil diejek, dipukuli, dilempari batu dan di lempari buah busuk dalam suasana riuh sperti kalangan
orang Irlandia yang sedang mabok. Orang kulit putih juga membakar dan
memporakporandakan, membunuh penduduknya sambil lewat, menembak, dan
menggantung paling sedikit sekitar 20 orang Cina dalam semalam.
Menghadapi
diskriminasi yang menimpa orang Cina
ini, mereka lebih suka mengundurkan diri atau berusaha agar tidak menarik
perhatian orang lain. Semua orang Cina memilih pemimpin untuk menyelesaikan
persoalan intern mereka sendiri dengan sedikit mungkin meminta bantuan lembaga
dari masyarakat yang lebih besar disekeliling mereka. Di Amerika Serikat, para
pemimin Cina sengaja menghindari pengadilan dan arena politik. Hal ini karena
keturunan Cina di Amerika hidup dalam komunitas penduduk yang sangat erat
hubunganya satu sama lain sebab berasal dari satu distrik dari satu provinsi di
Cina. Dalam wilayah-wilayah tertutup ini, mereka tetap hidup dan merupakan
suatu kebudayaan yang utuh, serangkaian tradisi dan nilai, yang berpangkal di
negeri Cina sendiri.
Organisasi
rahasia atau tong muncul di komunitas orang Cina di Amerika Serikat. Organisasi
Tong membagi wilayah khusus untuk pelacuran, perjudian, dan pemakaian opium
yang merupakan kegiatan lazim dikalangan kaum pria yang tidak punya rumah dan
hidupp tanpa wanita. Tong sering melawan dan melakukan pemberontakan secara
sporadis.
Pria
Cina sering terjebak di Amerika Serikat tanpa punya kesempatan untuk memiliki
hidup berkeluarga secara normal, dan mereka tidak mampu karena miskin dan
pulang ke negeri asalnya. Beribu-ribu orang Cina di Amerika yang dulu datang ke
Amerika dengan tujuan penjajagan ini lalu hidup sebatang kara sebagai penduduk
tetap disuatu negara dimana mereka tidak diinginkan.
Dari
kalangan orang Cina di Amerika, Klan tetap kuat. Pemimpin klan punya kekuatan
sosial sekaligus ekonomi. Seorang pedagang Cina biasanya menjadi pemimpin
klanya,membangun asrama disekitar tokonya untuk sesama bangsanya, dan
menyediakan bantuan, sarana, hubungan, dan tempat bernaung. Disamping klan,
berbagai organisasi saling bantu muncul untuk bertindak sebagai agen pencari
kerja, organisasi yang memutarkan kredit, perantara, dan organisasi sosial.
Generasi
baru yang terdiri dari atas anak-anak keturunan orang Cina kelahiran Amerika
menghadapi banyak kesulitan bahasa seperti anak imigran lainya, dan
kadang-kadang memasuki sekolah yang khusus untuk orang Cina. anak-anak orang
Cina ini maju dalam pelajaran, baik disekolah yang terdiri atas semua anak cina
maupun sekolah campuran dengan kelompok enis lainya. IQ mereka menunjukkan
dibawah rata-rata nasional. Guru-guru di New York memberi kesan bahwa anak-anak
keturunan Cina “lebih sopan santun, lebih patuh dan lebih dapat berdiri sendiri
dibandingkan kawan-kawan sekelas mereka yang kulit putih. Kaum muda Cina
kelahiran Amerika secara otomatis lepas dari undang-undang anti Cina yang
melarang mereka memasuki berbagai pekerjaan atau memiliki berbagai hak.
Generasi orang Amerika-Cina memasuki suatu dunia yang lain dari dunia yang
dihadapi oleh orang tua mereka dan punya bekal cukup untuk maju di dunia
tersebut.
Awalnya
pemerintah mengeluarkan Chinese
Exclusion Act tahun 1882. Pemerintah saat itu secara terang terangan
menolak imigrasi dari Cina karena banyak keluhan dan protes yang di lancarkan
oleh orang kulit putih. Tetapi karena Amerika Serikat sedang menghadapi Jepang
dalam Pearl Harbour pada Desember 1941. Maka Cina dan Amerika Serikat membentuk aliansi melawan Jepang. Sehingga, saat
perang masih berlangsung yaitu 1943, Chinese Exclusion Act direvisi
oleh pemerintah dan untuk pertama kalinya warga Cina diberikan hak untuk menjadi
warga negara Amerika.
Kemudian pada tahun 1965 Presiden Lyndon Johnson membuat “The Immigration and Nationality Act” yang dijadikan sebagai hukum negara yang
membiarkan peningkatan jumlah imigrasi dari Asia.
Simpati
umum orang Amerika terhadap orang Cina, membantu diterimanya orang Amerika-Cina
yang kini dianggap sebagai kelompok yang tertib dan tenang, tinggal dalam suatu
komunitas yang bebas masalah, atau paling tidak sebagai suatu kelompok yang
masalahnya jarang menarik perhatian masyarakat yang lebih luas.
Kini
keturunan orang Amerika-Cina yang dulu bermigrasi dari Provinsi Toishan telah
memelihara nilai-nilai Cina dan menambah akulturasi kepada masyarakat Amerika
dengan sangat berhasil. Mereka berintegrasi kedalam masyarakat Amerika dalam bidang
pekerjaan dan tempat tinggal, meskipun mereka tetap memelihara nilai-nilai dan
identitas etnis mereka sendiri.
b)
Orang
Jepang
Banyak
dari sejarah orang Amerika keturunan Jepang di bentuk oleh sikap, kecurigaan
dan diskriminasi terhadap orang Amerika keturunan Cina yang satu generasi lebih
dulu datang ke Amerika Serikat. Dalam pikiran masyarakat umum, keduanya
tercampur sebagai orang Timur, atau sebagai “Bahaya Kuning”, walupun nyatanya
mereka sudah dan tetap merupakan kelompok terpisah dan tersendiri. Emigrasi
dari Jepang ke Amerika Serikat dimulai pada akhir abad ke-19, ketika sejarah
Jepang sedang mengalami kritis. Pada
1868, Shogun-shogun dari klan Tokugawa yang sedang berkuasa itu digulingkan,
dan tidak hanya diganti oleh sekelompok pemimpin politik baru, tetapi juga oleh
serangkaian nilai-nilai dan aspirasi nasional yang baru.
Restorasi
Meiji 1868 menandai awal awal Jepang modern, bangkit dari feodalisme dan
isolasi sudah berlangsung selama berabad-abad, memasuki industrialisasi modern
dan terjun ke dalam perang, pertukaran budaya dan perdagangan internasional.
Keterpencilan Jepang terpaksa harus berakhir pada 1854, ketika Laksamana Perry
membawa satu armada kapal perang Angkatan Laut Amerika Serikat ke pantai Tokyo
dan memaksa pemerintah Jepang menandatangani persetujuan yang lebih membuka
negara itu bagi Amerika. Tindakan ini tidak hanya membawa Jepang kepada
hubungan dengan gagasan dan teknologi Barat. Orang Jepang pada era itu
bermigrasi ke Amerika.
Mula-mula
orang Jepang disambut dengan baik di Hawaii sekaligus di Amerika Serikat.
Mereka adalah kelompok yang sudah diseleksi terlebih dahulu. Pria muda sehat
dengan reputasi baik, cukup ambisius untuk melakukan petualangan beribu-ribu
mil dari tanah air mereka. Mereka dijadikan buruh yang sangat baik dalam
pekerjaan berat di perkebunan tebu Hawaii. Di daratan Amerika Serikat, Sekitar
40% mulai sebagai buruh tani. Dan sisanya bekerja dalam pembuatan jalan kereta
api dan pertambangan, pemotongan kayu, pengalengan, pabrik pengepakan daging
dan pekerjaan kasar lainnya. Ada yang menjadi pembantu rumah tangga orang
Amerika yang kaya. Dalam semua pekerjaan ini orang Jepang menerima upah rendah,
bekerja dalam jam kerja yang panjang, dan kondisi kerja yang sulit, tanpa
mengeluh.
Imigran Jepang hebat sekali
dalam penghematan, juga dalam industri. Mereka menabung uang sedikit yang
mereka terima dari upah yang menurut standar Amerika rendah, tetapi tinggi
menurut standar Jepang. Kelebihan-kelebihan yang dimiliki oleh orang Jepang
pada akhirnya membuat orang lain memusuhi mereka. Imigran Jepang menjadi
pegawai yang bagus sekali, ini membuat mereka ditakuti oleh saingannya dan
dibenci oleh buruh Amerika dan persatuan buruh Amerika. Sifat hemat,
rajin dan ambisi orang Jepang berarti bahwa makin banyak dari mereka yang maju
dari peringkat buruh dan menjadi petani atau pengusaha kecil. Dengan begitu
petani dan pengusaha Amerika yang pernah menerima orang Jepang sebagai pegawai,
dengan sengit memusuhi mereka sebagai saingan. Dengan meningkatnya orang Jepang
di California dari peringkat buruh pertanian menjadi petani penyewa atau
menjadi tuan tanah, kebencian terhadap mereka sebagai saingan meluas dari buruh
pertanian kulit putih ke petani kulit putih.
Kebencian
itu sekarang lebih berpengaruh dengan adanya perundang-undangan dan tindakan
anti jepang di California. Yang utama diantaranya adalah undang-undang Tanah
Orang Asing (Alien Land Law) 1913 yang melarang orang asing yang tidak memenuhi
syarat untuk menjadi warga negara memiliki tanah di California, yaitu orang
Asia pada umumnya, dan khususnya orang Jepang. Pada tingkat nasional,
California memimpin gerakan politik untuk menghentikan penerimaan orang Jepang
di Amerika Serikat.
Di
Hawaii, tempat proporsi orang Jepang lebih besar, dimana lebih dari 20 persen
diantara penduduknya. Di Hawaii ada dikriminasi pemberian upah terhadap orang
Jepang dan usaha untuk menghambat kemajuan mereka ke pekerjaan terampil. Suatu
pemogokan buruh pertanian Jepang pada 1909 memperburuk hubungan antara orang
Jepang dan orang kulit putih. Diskriminasi upah terhadap orang Jepang pertama
makin berkurang ketika orang Amerika keturunan Jepang banyak yang menjadi
petani dan majikan dari buruh tani Jepang. Namun petani Jepang membayar buruh
tani Jepang lebih tinggi daripada yang dibayarkan petani kulit putih, sehingga
petani kulit putih terpaksa menaikkan upah buruh Jepang. Setelah tahun 1909,
diskriminasi terhadap buruh tani Jepang pada dasarnya sudah hilang. Satu
dasawarsa kemudian, buruh tani Jepang benar-benar menerima upah gaji lebih
tinggi daripada buruh tani kulit putih karena orang Jepang bekerja jauh lebih
efisien.
Imigran
Jepang yang datang ke Amerika Serikat terbagi menjadi beberapa generasi.
Generasi pertama dinamakan Issei, generasi
kedua disebut Nissei, dan yang ketiga
disebut Sansei dan seterusnya. Ketika
orang Nissei menjadi dewasa, mereka membentuk organisasi mereka sendiri dengan
melakukan konsolidasi kedalam Liga Warga Negara Amerika-Jepang (JACL=Japenesse
American Citizen’s Leage) yang pada akhirnya menggantikan persatuan orang
Jepang dari kelompok Issei sebagai suara orang Amerika-Jepang. Kelompok Nissei
tidak menjadi sasaran diskriminasi seperti yang diderita orang tua mereka.
Mereka cenderung berusaha agar lebih diterima dalam masyarakat Amerika yang
lebih luas, yang menilai mereka berdasarkan hasil pendidikan dan akulturasi. Meskipun
organisasi Issei lebih mendukung dan merasionalisasi pada agresi Jepang pada
1920-an namun keyakinan dari Nissei mulai dengan “ Sayang bangga menjadi warga
negara Amerika keturunan Jepang”, dan mengungkaan kesediaaan untuk membela
Amerika Serikat “Melawan segala musuh”.
Pada
tanggal 7 Desember 1941, generasi pertama Jepang atau Issei melancarkan suatau
serangan besar-besaran yang mengejutkan terhadap armada Amerika di Pearl
Harbor, Hawaii. Peristiwa ini mengakibatkan kekalahan paling hebat yang pernah
dialami bangsa Amerika. Timbul ketakutan yang menjadi-jadi bahwa Pantai Barat
Amerika Serikat akan menjadi sasaran berikutnya dari serangan atau bahkan
invasi militer Jepang. Kemarahan dan kekhawatiran orang Amerika terhadap Jepang
juga berubah melawan orang Amerika keturunan Jepang. Hal ini kadang-kadang
diungkapakan secara sporadis dalam bentuk umpatan atau serangan fisik.
Setelah Serangan Pearl Harbor, 7 Desember 1941, orang Jepang yang tinggal di
Amerika dicurigai. Pada senja hari yang sama, 736 penduduk keturunan Jepang
ditahan. Jumlahnya mereka yang ditahan meningkat menjadi 1.370 orang pada 11
Desember 1941.
Pada 19 Februari 1942, Presiden Franklin Roosevelt menandatangani Executive Order 9066 yang
memberi wewenang kepada militer untuk mengeksklusi "sebagian dan semua
orang" dari daerah-daerah yang ditetapkan berdasarkan alasan keamanan
dalam negeri. Sekitar 120.000 orang Jepang-Amerika dan orang Jepang penduduk
Amerika ditahan di 10 kamp interniran di Amerika Serikat.
Kongres Amerika Serikat pada tahun 1980 membentuk
Komisi Relokasi Masa Perang dan Penginterniran Warga Sipil. Komisi dibentuk
untuk menyelidiki perlakuan tidak adil dan diskriminasi terhadap orang
Jepang-Amerika. Menurut laporan komisi yang diumumkan tahun 1983,
penginterniran orang Jepang-Amerika tidak berdasarkan alasan keamanan nasional.
Presiden Ronald Reagan menandatangani Civil Liberties Act of 1988 yang
berisi penyesalan atas terjadinya penginterniran orang Jepang Amerika, dan
ganti rugi sebesar AS$20.000 dibayarkan kepada masing-masing korban.
1. Sowell
Thomas. 1989. Mozaik Amerika: Sejarah
Etnis Sebuah Bangsa. Jakarta. Pustaka Sinar Harapan.
2. Mann
Arthur. 1990. Yang Satu Dan Yang Banyak:
Refleksi Tentang Identitas Amerika. Yogyakarta. Gadjah Mada University
Press.
3. Www.
Google.com
b. http://indonesian.irib.ir/hidden-1//asset_publisher/m7UK/content/diskriminasi-rasial-dalam-sinema-as
Tidak ada komentar:
Posting Komentar