KERJASAMA
INDONESIA DENGAN AMERIKA SERIKAT
Hubungan
Amerika Serikat-Republik Indonesia (AS) telah terbina sejak sebelum Proklamasi
Kemerdekaan RI tahun 1945. Secara resmi, hubungan diplomatik kedua negara
ditandai dengan pembukaan Kedutaan Besar di masing-masing negara. Tanggal 28
Desember 1949, AS membuka Kedutaan Besar di Jakarta dan menunjuk Duta Besar AS
pertama untuk Indonesia, Horace Merle Cochran. Tanggal 20 Februari 1950,
Indonesia menunjuk Dr. Ali Sastroamidjojo sebagai Duta Besar RI pertama untuk
AS. Hubungan Amerika Serikat dengan Indonesia berawal dari Konfrensi Meja
Bundar (KMB) di Den Haag. Adanya masalah KMB antara Indonesia dengan Belanda
tentang pengakuan kedaulatan membuat Amerika ikut campur tangan dalam membantu
Indonesia menyelesaikan masalah ini. Sebagai akibat bantuan yang diberikan
kepada nasionalisme Indonesia, khususnya melalui usaha Komisi Perserikatan
Bangsa-bangsa untuk Indonesia, martabat Amerika telah bertambah baik di
kalangan bangsa-bangsa Asia yang bersahabat dengan Indonesia. Hubungan erat
dipelihara dengan Amerika Serikat dan bantuan ekonomi serta teknik Amerika
diusahakan dengan giat.
A.
Bidang
Politik dan Keamanan
Hubungan Indonesia-AS dalam masalah-masalah keamanan
sejak 1965 telah saling menguntungkan. Sebagai bangsa-bangsa yang menganut
status quo, Indonesia dan AS mempunyai keprihatinan yang sama dan hubungan
militer kedua Negara sangat baik.
Namun demikian hubungan baik kedua Negara ini
bukannya tanpa konflik. Di tahun-tahun pertama hubungan ini diwarnai oleh
saling tidak percaya dan berbagai harapan yang tak terpenuhi. Indonesia melihat
dunia luar berdasarkan pengalaman pahitnya menghadapi kolonialisme, pendudukan
militer dan imperialism Barat. Sebaliknya, AS yang disibuki dengan strategi
pengepungan (Containment strategy), merasa tidak puas dengan posisi non-blok
Indonesia setelah berakhirnya Perang Dingin.
Sampai batas tertantu perbedaan persepsi masih
sering menimbulkan salah mengerti hingga sekarang ini. Definisi keamanan atau
sekuriti misalnya, mempunyai arti yang berbeda bagi Indonesia dan AS. Dalam
pengertian Amerika, sekuriti selalu dikaitkan dengan pertahanan militer. Untuk
Indonesia, sekuriti mempunyai cakupan yang lebih luas termasuk ideologi,
politik, ekonomi, factor-faktor sosial dan pertahanan. [1]
Kennedy dan Masalah
Irian Barat [2]
Keinginan pemerintahan Kennedy untuk membangun
kembali hubungan baik dengan pemerintah Indonesia sudah tampak jelas sejak awal
ketika pejabatnya mendesak Kennedy untuk mengundang Soekarno secara langsung ke
gedung putih. Bahkan 5 hari setelah dia dilantik menjadi presiden A.S, duta
besar Jones menyarankan kepada Kennedy untuk bertemu langsung dengan presiden
Soekarno di Washington bahwa pemerintahan A.S yang baru sangat menentang
imperialism dan kolonialisme. AS sungguh-sungguh ingin mencari solusi damai
bagi masalah Irian Barat dan siap membantu Presiden Soekarno kapan saja. Bung
Karno menyambut baik pemerintahan baru di bawah Kennedy dan pandangan-pandangan
politik luar negeri khususnya berkaitan dengan Irian Barat. “tolong sampaikan
kepada presiden Kennedy, bahwa rakyat Indonesia berharap banyak padanya” tutur
presiden Soekarno.
Perlu diingat, Bung Karno pernah bertemu dengan
Kennedy ketika Kennedy mengunjungi Indonesia. Presiden Soekarno yakin bahwa dia
dan presiden Amerika yang baru akan dapat berkawan dan dapat bekerja sama
dengan baik. Negara-negara Asia-Afrika sedang merasa bahwa Amerika cenderung
berpihak pada kolonialisme dan menentang cita-cita bangsa-bangsa yang baru
merdeka. Sebgai tanda kepercayaan baru terhadap hubungan A.S-Indonesia,
presiden Soekarno tidak mau lagi menghubung-hubungkan dengan pemerintahan Eisenhower
yang telah mendukung pemberontakan
permesta dan PRRI.
Bung Karno sendiri menyambut positif langkah PKI
untuk membina hubungan yang lebih dekat dengannya. Dia sadar bahwa meskipun
sangat kuat pada tingkat pemerintahan dia tidak lagi punya cukup akses politik
langsung ke rakyat sebab secara resmi dia tidak termasuk menjadi salah satu
anggota partai politik yang ada. Sementara itu, dengan adanya dukungan PKI yang
besar, Angkatan Darat maupun rakyat Indonesia pada umumnya Bung Karno mulai
melancarkan berbagai kampanye baik di dalam maupun luar negeri terkait masalah
Irian Barat.
Sementara Soekarno mencari jalan untuk membuat
Washington mau menekan Belanda, presiden Kennedy menyetujui saran para
penasehatnya dan mengundang Bung Karno untuk bertemu dengan di Amerika Serikat.
Hal ini juga ditanggapi dengan antusias oleh Presiden Soekarno karena dapat
memperkokoh persahabatan Indonesia-Amerika serikat. Dan yang paling penting
akan memberikan kesempatan untuk mencari dukungan dari Kennedy terkait masalah Irian
Barat.
Ketika pada
tanggal 24 April 1961, kedua presiden tersebut benar-benar bertemu di
Washington, mereka berbicara banyak tentang masalah Irian Barat. Ketika itu
Kennedy menanyakan keabsahan dan arti penting klaim Indonesia atas wilayah
tersebut, Bung Karno membelah posisi Indonesia dengan jawaban-jawaban yang amat
cerdik. Selama pembicaraan tersebut, Kennedy juga menyinggung masalah Komunisme
di Asia tenggara dan Indonesia. Kennedy ingin memastikan langsung tuduhan bahwa
Bung Karno makin condong ke kelompok komunis itu benar adanya. Bung Karno
mengingatkan bahwa PKI adalah partai besar keempat di Indonesia yang mana 90
persen anggotanya adalah orang-orang nasionalis revolusioner dan hanya 10
persen sisahnya yang benar-benar komunis. Kennedy lalu mengatakan bahwa Amerika
ingin supaya Indonesia yang sudah merdeka itu tidak dikuasai oleh kekuatan
Komunis, khususnya blok Komunis. Menteri Luar Negeri Indonesia ketika itu Dr.
Subandrio yang ikut serta hadir dalam pembicaraan tersebut membalas pernyataan Kennedy
tersebut bahwa Indonesia tidak ingin
diatur ataupun didikte oleh Beijing dan Moskow dan juga tidak ingin diatur-atur
juga oleh Washington. Tambah Subandrio. “Kami ingin berdiri di atas kaki kami
sendiri. Kami ingin bergantung pada diri kami sendiri”.
Meskipun pembicaraan tersebut berlangsung terbuka,
pembicaraan terkait masalah Irian Barat tidak mencapai kesepakatan. Namun demikian, presiden Kennedy
mengisyaratkan bahwa dia terbuka terhadap pendapat Indonesia dan bahwa dia
memiliki kepentingan pribadi untuk memastikan bahwa perselisihan tersebut “akan
berakhir dengan penyelesaian yang baik”. Kennedy juga setuju mengirimkan sebuah
tim pengamat ekonomi guna membantu pemerintah Indonesia menjalankan program
pembangunan ekonomi delapan tahunannya.
B.
Bidang
Ekonomi
Sejak 1982 memburuknya lingkungan eksternal telah
mendorong Indonesia melakukan reorientasi dalam kebijakan ekonomi jangka pendek
dan jangka panjang. Rupiah telah didevaluasi pada tahun 1983 dan tahun 1986.
Kebijakan deregulasi telah diterapkan di bidang perdagangan, industri,
penanaman modal dan kepariwisataan. Orientasi ekspor dianggap sebagai
satu-satunya pilihan untuk menggalakkan pertumbuhan ekonomi dan kesempatan
kerja, untuk mengurangi ketergantungan pada ekspor migas dan untuk meningkatkan
kemampuan pembayaran cicilan hutang.
Neraca perdagangan Indonesia-AS antara tahun
1978-1986 negatif, tetapi berbalik antara tahun 1987-1988. Kira-kira 50% ekspor
pakaian jadi Indonesia dieskpor ke AS demikian pula 37% ekspor karet alam dan
39% ekspor bumbu-bumbu. Meskipun sudah ada tanda-tanda yang menggembirakan,
Indonesia masih mengkhawatirkan apakah masih terus bisa mendapatkan akses ke
pasaran AS.
Sampai tahun 1973 AS telah memainkan peranan yang
penting dalam membatu Indonesia secara financial, yaitu member 1/3 dari
komitmen IGGI. Pada tahun 1988, bantuan AS merosot tajam menjadi US$90 juta,
kurang dari jumlah bantuan yang diberikan oleh Inggris, Jerman Barat, Prancis,
dan Belanda.
Indonesia menghendaki meningkatnya penanaman modal
AS untuk membantu menggerakkan ekonominya dan untuk mengimbangi meningkatnya
kehadiran investor Jepang di Indonesia. Namun beberapa faktor merupakan
penghalang bagi terselenggaranya perluasan penanaman modal dari AS dan dari
Negara-negara lain. Tiadanya UU Anti-Monopoli dan UU mengenai perusahaan yang
memadai telah menimbulkan berbagai masalah etika bisnis. Hal ini menjadi
masalah dan keluhan bagi pengusaha-pengusaha Amerika. [3]
Bantuan
Ekonomi dan Keuangan Amerika Serikat kepada Indonesia [4]
Amerika Serikat juga turut serta memberikan
berbagai macam bentuk bantuan bagi Indonesia. Bantuan ini salah satunya
dilakukan melalui United States Agency for International Development (USAID).
Terkait dengan bidang ekonomi, terdapat beberapa aspek yang menjadi fokus dari
bantuan Amerika Serikat ini, diantaranya:
a. Penguatan
pertumbuhan ekonomi dan penciptaan lapangan pekerjaan
Bantuan
terhadap Pemerintah Indonesia dan sektor swasta difokuskan untuk menciptakan
lapangan
pekerjaan dengan cara meningkatkan iklim usaha dan investasi
memberantaskorupsi, meningkatkan daya saing di sektor-sektor kunci, dan
meningkatkan stabilitas sistem keuangan.
b. Pengembangan
iklim usaha dan perusahaan
Usaha untuk
mendorong peraturan terkait usaha yang transparan ditujukan untk mengurangi hidden
cost dalam melakukan kegiatan usaha, mengurangi ketidakpastian, dan
mendorong perdagangan, investasi, serta penciptaan lapangan pekerjaan. USAID
memberikan bantuan teknis terhadap sektor-sektor industri untuk mendorong
pertumbuhan, ekspor, pekerjaan, dan kesejahteraan. Diharapkan agar
tindakan-tindakan ini dapat meningkatkan produktivitas dan daya saing nasional.
c. Stabilitas
dan kewajaran sektor keuangan
USAID
berusaha membantu regulator untuk meningkatkan pengawasan terhadap lembaga
keuangan bank dan non bank untuk mendorong stabilitas sistem keuangan dan
meningkatkan transparansi serta tata laksana (governance).
d. Perbaikan
kualitas jasa kebutuhan dasar
USAID Basic Human Services memberikan
bantuan kepada Indonesia melalui strategi
terintegrasi yang mengkombinasikan bidang
kesehatan, pangan dan gizi, manajemen
lingkungan, dan air di tingkat kecamatan
dan kelurahan.
e. Jasa lingkungan
Bantuan
USAID ini bertujuan untuk meningkatkan akses masyarakat terhadap air bersih dan
sanitasi. Langkah nyata dukungan USAID ini salah satunya tercermin dari bantuan
dalam proyek Air Rahmat, yang bertujuan untuk memberikan air minum yang aman
untuk dikonsumsi bagi masyarakat miskin kota.
f. Jasa
kesehatan
Program USAID di bidang ini berfokus pada
kesehatan ibu dan anak, termasuk kesehatan
reproduksi,
HIV/AIDS, tubercolosis (TBC), malaria, dan proses desentralisasi sektor
kesehatan. Tidak hanya itu, bantuan di bidang kesehatan juga tanggap melihat
masalah-masalah kesehatan baru yang muncul di Indonesia. Sebagai contoh, selain
program-program di atas, terdapat inisiatif baru untuk mengatasi masalah flu
burung di Indonesia.
g. Pangan dan
gizi
Bantuan
USAID di bidang pangan dan gizi juga menyentuh masyarakat miskin, dengan focus
pada program yang memiliki dampak langsung terhadap wanita dan anak-anak. Salah
satu bentuk nyata dari program ini adalah edukasi terhadap wanita dan anak-anak
mengenai suplemen makanan dan gizi.
h. Pinjaman/utang
Utang luar negeri Indonesia berasal dari
pinjaman bilateral dari berbagai negara dan juga
utang dari
organisasi-organisasi internasional. Pinjaman bilateral yang berasal dari
Amerika Serikat menempati peringkat kedua setelah pinjaman bilateral yang
berasal dari Jepang.
Neoliberalisme sebagai
paham AS dalam bidang ekonomi
Neoliberalisme merupakan paham yang menekankan pada
aktor-aktor non negara yaitu institusi-institusi dan munculnya interdependensi
antar aktor-aktor dalam sistem internasional. Neoliberalisme ini mulai muncul
sepanjang tahun 1950-1970an dimana sejumlah besar hubungan internasional dengan
perdagangan dan investasi, dan isu-isu serupa yang khususnya lazim dalam
hubungan diantara negara-negara demokrasi liberal Barat. Pemikiran utama
neoliberalisme datang dari Robert Keohane dan Joseph Nyne dengan konsepnya “interdependensi”
dimana kerjasama menyebabkan saling ketergantungan antara kedua negara,
sehingga kedua negara saling membutuhkan satu sama lain.
Tetapi, interdependensi dapat menjelaskan fenomena
lain yang dapat dibilang negatif bagi suatu kerjasama. Interdependensi atau
saling ketergantungan tidak mungkin berjalan seimbang bagi masing-masing
negara. Karena pasti ada salah satu negara yang lebih diuntungkan sementara
yang lain berada dibawahnya. akan terjadi diskriminasi ekonomi yang mayoritas
dirasakan oleh negara yang berkedudukan lebih rendah. Bagaimanapun juga, teori
ini merupakan sebuah teori yang sering dipakai untuk menjelaskan fenomena
kerjasama, baik bilateral, regional, maupun multilateral. Interdependensi
berarti ketergantungan timbal balik : rakyat dan pemerintah dipengaruhi oleh
apa yang terjadi dimanapun, oleh tindakan rekannya di negara lain.
Eksistensi
Neoliberalisme AS di Indonesia à Keberadaan MNC Freeport McMoran Gold & Copper
Salah satu poin penting dari Neoliberalisme adalah
institusi maka fokus analisis institusi yang dimaksud dalam hal ini ialah
Freepot Mc Moran Gold and Copper Company yang kemudian membuka cabangnya di
Indonesia (host country) dalam rangka
memperkecil pengeluaran dan memaksimalkan profit karena AS tahu bahwa indonesia
kaya akan barang tambang (emas, perak,
tembaga, dan uranium). PT. Freeport Indonesia (PTFI atau Freeport)
adalah sebuah perusahaan pertambangan yang mayoritas sahamnya dimiliki
Freeport- McMoRan Copper & Gold Inc. Perusahaan ini merupakan perusahaan
penghasil emas terbesar di dunia melalui tambang Grasberg. Freeport Indonesia
telah melakukan eksplorasi di dua tempat di Papua, masing- masing
tambang Ertsberg dari {1967 – 1988} dan tambang Grasberg {sejak
1988}, di kawasan Tembagapura, Kabupaten Mimika, Provinsi Papua. Meningkatnya
permintaan menuntut AS untuk mencari daerah-daerah baru yang dirasa mampu
memberikan profit lebih dalam memproduksi raw materials. Neoliberalisme dalam
hal ini adalah Freeport McMoran Gold & Copper Inc. sebagai institusi yang
memegang peranan penting untuk mencapai tujuan yang diinginkan yaitu
mendapatkan barang tambang sebanyak-banyaknya dengan kualitas yang bagus untuk
dijual di pasar dunia.
Interdependensi : Terjadi saling ketergantungan dan
saling membutuhkan satu sama lain antara AS dan Indonesia yaitu :
- AS
membutuhkan Indonesia untuk dijadikan (host country MNC) karena Timika kaya
akan barang-barang tambang yang berpotensi besar untuk dijual dipasar dunia dan
kualitasnya sangat bagus
- Indonesia
membutuhkan AS karena kecanggihan teknologi serta sumber daya manusia yang
handal sehingga mampu mengolah sumber daya alam yang belum mampu diolah sendiri
oleh Indonesia.
Freeport-McMoRan memegang 90,64 persen saham dari anak
perusahaan PT Freeport Indonesia. Sisanya dimiliki oleh pemerintahan di Jakarta. Pada awal 2006 sejumlah masyarakat Papua melakukan protes
di Jakarta dan Timika. Mereka menuntut PT Freeport meningkatkan pembagian hasil
perusahaan tersebut dari 1% hingga 7%.[5]
Kini
Indonesia mempunyai hubungan ekonomi yang timbal-balik dengan AS yang cukup
intensif, sehingga Indonesia harus lebih keras berusaha untuk tampil terutama
dalam masalah-masalah perdagangan dan pembiayaan. Hal ini terutama menjadi
sangat relevan dengan kemungkinan meningkatnya friksi perdagangan global dan
bilateralism, dan jika AS secara relatif menjadi makin lemah di pasaran dunia. [6]
[1] Gary Schuman dan Clara Joewono,
Hubungan Indonesia-Amerika Serikat, Centre for Strategic and International
Studies, Jakarta 1990, hlm. 30-31
[2] Baskara T Wardaya, Indonesia Melawan Amerika, Galang Press, Jakarta
2008, hlm 242-252
[3] Gary Schuman dan Clara Joewono,
Hubungan Indonesia-Amerika Serikat, Centre for Strategic and International
Studies, Jakarta 1990, hlm. 32-34
[4] http://www.kemenkeu.go.id/sites/default/files/Kajian_Kerja_Sama_Bilateral_RI-AS.pdf.
diunduh 7 mei 2014 pukul 09.08 WIB
[5] http://id.wikipedia.org/wiki/Freeport-McMoRan,
diunduh 7 mei 2014 pukul 14:26 WIB
[6] Gary Schuman dan Clara Joewono,
Hubungan Indonesia-Amerika Serikat, Centre for Strategic and International
Studies, Jakarta 1990, hlm. 25
Tidak ada komentar:
Posting Komentar