Aspirasi perempuan Indonesia masih bersifat sosial dan non politis.Pergerakan wanita yang bermula-mula berupa pergerakan sosial, yaitu suatu pergerakan yang berjuang untuk menaikkan derajat (kedudukan) wanita dalam masyarakat. Sering dinamakan pergerakan emansipasi, yaitu pergerakan yang bertujuan untuk mencapai persamaan derajat antara laki-laki dan wanita. Misalnya, wanita tidak semata-mata hanya menjadi koki bagi keluarganya. Wanita dapat terhindar dari kawin paksa dimana kebiasaan orang tua dalam menentukan jodoh anaknya harus sesuai keinginan orang tuanya. Kebiasaan poligami yang dilakukan oleh para suami dihapus dan sebagainya.
Pergerakan wanita dipelopori oleh R.A Kartini (1889-1904), puteri bupati Jepara yang diperisteri oleh bupati Rembang Joyodiningrat, yang istrinya juga lebih dari seseorang. Wanita mengalami nasib yang buruk karena karena kurangnya pendidikan mereka, sehingga dalam banyak hal hidup perempuan tergantung kepada laki-laki. Karena itu perbaikan nasib mereka hanya mungkin dicapai kalau pendidikan wanita dikembang. Idenya, yang termuat dalam surat-surat yang dikirimkan kepada kawan-kawannya dibukukan menjadi “Habis Gelap Terbitlah Terang”. Nantinya tersebar luas dan banyaknya sekolah wanita didirikan. Karena jasa-jasanya sekolah itu dinamakan menurut namanya, Sekolah Kartini. Jasa selalu dikenang bukan saja oleh kaum Ibu tetapi juga oleh rakyat Indonesia, terutama dalam perayaan Hari Kartini, yang jatuh pada tanggal 21 April, bertepatan dengan hari lahirnya.
Berkat kepeloporannya, maka nantinya didirikanlah berbagai perkumpulan-perkumpulan wanita yang memperjuangkan terwujudnya ide-ide Kartini, seperti salah satunya Puteri Mardika di Jakarta (1912) dengan bantuan Budi Utomo, yaitu bertujuan memajukan pengajaran anak-anak perempuan (antara memberikan penerangan dan bantuan uang), juga mempertinggi sikap yang mereka dan tegak dan melepaskan diriketerbatasannya. Selain itu ada juga, Wanita Adi di Jepara (1915), Pawiyatau wanita di magelang (1915), Wanita Susiladi Palembang (1918) dan sebagainya. Dalam usaha-usaha untuk memperbaiki nasib wanita, perkumpulan ini menyelenggarakan pendidikan untuk wanita, terutama Sekolah-sekolah Kartini. Sekolah-sekolah yang seperti ini tidak hanya ada di kota-kota, bahkan di desa pun Sekolah Kartini didirikan seperti di desa Purwodadi-jenar, Purworejo.
Dalam masa pertama dari pergerakan Indonesia, Pergerakan Wanita hanya berjuang untuk mempertinggi kedudukan sosial. Masalah-masalah politik seperti hak-pemilihan-sama tidak menjadi perundingan, sebab kaum laki-lakipun tidak mempunyainya. Permasalahan kemerdekaan tanah air sama sekali jauh dari itu. Paham tentang budi pekerti, keagamaan, dan adat masih menjadi rintangan terbesar untuk dapat bertindak ke arah lebih jauh. Karena hal pertama yang mendorong untuk bergerak ialah paham-paham tentang kedudukan wanita didalam perkawinan dan hidup keluarga.
Pergerakan Wanita dalam permulaan adalah gerak orang seorang, sebagai aksi dari beberapa orang perempuan sendiri, tidak dalam susunan perkumpulan. Pada akhirnya perhatian kepentingan kaum perempuan ini menjadi perhatian organisasi-organisasi perempuan, yang dengan sendiri bisa disimpulkan akibat dari pendapat-pendapat Kartini.
Corak pergerakan wanita dalam masa pertama ini (dapat dikatakan “pergerakan”) bisa dikatakan sebagai pergerakan perbaikan kedudukan dalam hidup keluarga dan perkawinan dan memperluas kecakapan sebagai ibu dan pemegang rumah tangga dengan jalan menambah lapangan pengajaran, memperbaiki pendidikan dan mempertinggi kecakapan-kecakapan wanitayang khusus.
Pergerakan Wanita Indonesia Dalam Pergerakan Nasional
Sesudah berlangsungnya Kongres Pemuda Indonesia pada tanggal 28 Oktober 1928, atas inisiatif 7 organisasi perintis pergerakan wanita Indonesia, diselenggarakan “Konggres Perempuan Indonesia” yang pertama di Yogyakarta pada tanggal 22 Desember 1928. Kongres ini merupakan lebaran sejarah baru lagi pergerakan wanita Indonesia, dimana wanita diwujudkan kerja sama untuk kemajuan wanita khususnya dan masyarakat pada umumnya. Ciri utama kesatuan pergerakan wanita Indonesia dalam masa ini ialah berasaskan kebangsaan dan menjadi bagian dari pergerakan Kebangsaan Indonesia.
Kesatuan pergerakan wanita Indonesia tidak bersifat feminimistis dalam arti konfrontatif terhadap kaum pria, tetapi pergerakan wanita mengutamakan kerja sama karena ,menyadari bahwa untuk menghadapi penjajah dan untuk mencapai kemerdekaan Indonesia diperlukan persatuan. Kongres Perempuan Indonesia tidak menjalankan politik aktif sebagai suatu partai, namun setiap kegiatan sejalan dengan pergerakan kebangsaan Indonesia.
Kesatuan pergerakan wanita dalam masa penjajahan banyak mengalami rintangan karena berada dalam situasi masyarakat yang dualistis. Di satu pihak penjajah berusaha menekan rasa kebangsaan dan di lain pihak pergerakan Indonesia membangkitkan dan memupuk rasa kebangsaan. Dengan demikian perjuangan pergerakan wanita Indonesia pada masa itu meliputi dua hal:
Berjuang bersama-sama kaum pria menuju cita-cita kemerdekaan
Meningkatkan kedudukan wanita dalam bidang-bidang pendidikan, sosial dan kebudayaan.
Pada masa pemerintahan Hindia-Belanda (1928-1941), kaum wanita Indonesia mengusahakan persatuan dan kerja sama antara organisasi-organisasi wanita untuk mencapai cita-citanya. Dijiwai oleh Sumpah Pemuda tahun 1928 dan atas inisiatif tujuh organisasi wanita Indonesia pada tanggal 22 Desember 1928, diselenggarakan Kongres Perempuan Indonesia I di Yogyakarta, salah satu keputusannya ialah mendirikan badan federasi dengan nama ‘’ Perikatan Perkumpulan Istri Indonesia (PPII).
Antara Kongres Perempuan Indonesia I tahun 1928 dan Kongres Perempuan Indonesia II tahun 1935, diadakan 4 kali Kongres PPPI/PPII.
Hal yang selalu mendapat perhatian pada setiap Kongres, ialah :
Kedudukan wanita dalam hukum perkawinan (Islam).
Perlindungan wanita dan anak-anak dalam perkawinan
Mencegah perkawinan anak-anak
Pendidikan bagi anak-anak Indonesia. Khususnya bagi anak-anak gadis didirikan yayasan” Seri Derma” untuk membantu anak-anak gadis yang tidak mampu membayar biaya sekolah.
Pada tahun 1937 atas usaha beberapa perkumpulan wanita didirikan “Komite Perlindungan Kaum Perempuan dan Anak-anak Indonesia”. (KPKPAI).komite tersebut bertujuan memberikan perlindungan kepada wanita dan anak-anak dalam perkawinan, merencanakan suatu peraturan perkawinan dan mendirikan biro konsultasi. KPKPAI yang semula berdiri sendiri, pada Kongres Perempuan Indonesia III di Bandung bulan Juli 1938, dijadikan suatu badan kongres dengan nama “ Badan Perlindungan Perempuan Indonesia dalam Perkawinan” (BPPIP).
Dari uraian diatas jelaslah bahwa kegiatan pergerakan wanita Indonesia dimasa pemerintahan Hindia-Belanda meliputi bidang: pendidikan, sosial, budaya, hukum dan politik. Kerjasama bahu membahu dengan kaum pria dan meningkatkannya ruang lingkup perjuangan pergerakan wanita lebih tampak lagi dalam perkembangan kongres-kongres.
Pergerakan Wanita yang tujuan awalnya adalah tentang kesamaan kedudukan wanita didalam perkawinan dan hidup keluarga dan memperluas kecakapan sebagai ibu dan pemegang rumah tangga dengan jalan menambah lapangan-lapangan pengajaran, memperbaiki pendidikan dan mempertinggi kecakapan-kecakapan wanita yang khususnya. Seiring perkembangan pergerakan wanita mulai merambat kedalam berbagai bidang pertahanan, politik.
Pergerakan wanita mulai memiliki peran yang patut diperhitungan dalam pergerkan Nasional Indonesia karena pergerakan wanita banyak menyumbangkan ide-ide dan kemampuan mereka bagi perkembangan bangsa untuk menuju kemerdekaan, kesadaran awal pergerakan wanita ini tidak jauh dari kesamaan dan kesetaraan wanita dengan pria, dengan berbagai latar belakang kaum perempuan yang ingin maju dan keluar dari penindasan penjajahan, melalui pembaharuan dalam bidang pendidikan yang membantu masyarakat pribumi untuk bisa mengenyam pendidikan bukan hanya kaum bangsawan yang bisa mendapat pendidikan. Pergerakan Wanita Indonesia berhasil mendirikan berbagai sekolah-sekolah yang membantu perkembangan pendidikan bagi masyarakat Pribumi, usaha-usaha pendidikan ini bertujuan untuk memberantas buta huruf, perbaikan nasib wanita Indonesia dll.
Pergerakan Wanita termasuk kedalam pergerakan Nasional karena tujuan pergerakan ini bukan hanya berjuang bagi kaum Wanita Indonesia pada masa penjajahan tetapi membantu masyarkat pribumi berjuang bersama-sama melalui berbagai bidang untuk menuju kemerdekaan.
Organisasi-Organisasi Pergerakan Wanita Indonesia.
Dari pergerakan-pergerakan yang dilakukan oleh kaum wanita, maka akhirnya didirikan organisasi-organisasi bagian wanita untuk belajar memperluas wawasan, tampil dimuka umum, memikirkan masalah-masalah masyarakat diluar sehingga organisasi-organisasi ini bertujuan mewadahi perkumpulan wanita-wanita yang bersama-sama berjuang. Diantaranya:
Putri Mardika
Putri Mardika merupakan organisasi keputrian tertua dibantu Budi Utomo. Tujuan dari didirikannya organisasi ini ialah untuk memajukan pengajaran anak-anak perempuan (dalam dunia pendidikan), mempertinggi sikap yang mereka dalam melepaskan diri keterbatasannya,selain itu juga memberikan bantuan uang. Dari dapat memberikan bantuan, bimbingan dan penerangan kepada wanita-wanita pribumi dalam menuntut pelajaran agar bisa menyatakan pendapatnya di muka umum.
Istri Sedar
Didirikan di Bandung pada tanggal 22 Maret 1930 oleh Nona Suwarni Djojoseputro. Tujuannya ialah untuk meningkatkan kesadaran dan derajat wanita Indonesia untuk ikut berjuang mencapai kemerdekaan Indonesia. Organisasi ini berdiri terbuka bagi agama manapun dan dibangun untuk kaum wanita terpelajar dan dari rakyat jelata sebagai organisasi yang terjun ke dalam dunia politik langsung.
Istri Indonesia (II)
Didirikan pada Juli 1932 dengan tokoh-tokohnya Ny. Sunaryo Mangunpuspito dan Maria Ulfa Santoso. Dengan tujuan mencapai Indonesia Raya. Organisasi ini juga terjun dalam dunia perpolitikan dalam usahanya untuk mecapai Indonesia Raya.
Keutamaan Istri
Didirikan di Bandung pada tahun 1904 oleh R. Dewi Sartika. Tujuannya, mengajarkan anak-anak gadis agar mampu membaca, menulis, berhitung, dan mempunyai keterampilan kerumahtanggaan agar kelak dapat menjadi ibu rumah tangga yang baik.
Aisiyiyah
Didirikan tanggal 22 April 1917 di Yogyakarta. Pendirinya Ny. H. Siti walidah Ahmad Dahlan. Tujuannya untuk menegakkan, meningkatkan pendidikan keagamaan dan menanam rasa kebangsaan bagi kaum wanita.
Pimpinan Pusat Aisyayah berkedudukan di Yogyakarta. Amal usaha Aisiyiya meliputi:
Bagian pendidikan dan pengajaran
Bagian Dakwah (pendidikan dan pengajaran di luar sekolah)
Bagian pertolongan
Bekerja sama baik dengan organisasi Islam, maupun non islam.
Sebenarnya masih banyak lagi organisasi-organisasi yang berdiri pada masa pergerakan kemerdekaan. Wanita katolik (1927) di Yogyakarta, Wanita Taman Siswa (1922), Puteri Indonesia (1927), Puteri Setia di Manado dan lainnya. Namun, dari semua organisasi-organisasi yang didirikan pada masa ini, semuanya untuk memberikan kesempatan bagi kaum perempuan untuk dapat menyetarakan hak layaknya kaum laki-laki.
Nilai-Nilai Yang Dapat Ambil Dari Pergerakan Wanita Indonesia.
Nilai-nilai yang didukung oleh pimpinan-pimpinan yang mengenal pendidikan Barat akan tetapi yang menjunjung tinggi kebudayaan asli ialah apa yang termuat dalam kumpulan surat-surat R.A Kartini. Dalam surat-surat itu mengungkapkan:
Rasa perikemanusisaan yang nampak dalam perhatiannnya dan kasih sayangnya terhadap orang banyak. Karena kasih sayang itu ituKartini bersedia berkorban dan mengesampingkan kepentingannya sendiri.
Keagamaan (religiositas) yang menghubungkan segala pengalamannya dengan titah Tuhan, dan pandangan agama yang sempit ditentangnya.
Rasa keadilan yang menentang bermacam-macam kepincangan dalam masyarakat kolonial; begitu puladitentangnya hambatan-hambatan yang ada bagi kaum dalam masyarakat tradisional seperti peraturan-peraturan dan adat istiadat mengenai perkawinan dan dalam lapangan pekerjaan.
Nasionalisme yang menentang perbuatan-perbuatan penjajahan yang menyebabkan penderitaan orang banyak ; disamping itu ada rasa cinta terhadap kebudayaan sendiri meskipun dihargai pula hasil kebudayaan dan buah pemikiran bangsa-bangsa.
Cita-cita demokrasi yang menjauhkan diskriminasi yang ditimbulkan oleh feodalisme; sikap yang membanggakan keturunan ningrat dikecamnya.
Nasionalisme yang menentang perbuatan-perbuatan penjajahan yang menyebabkan penderitan orang banyak; disamping itu ada rasa cinta terhadap kebudayaan sendiri meskipun dihargainya pula hasil kebudayaan dan buah pemikiran bangsa-bangsa lain.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar